Waspadai! Hepatitis Ada di Sekitar Kita

Assalaamu’alaikum….

Hari ini saya mendengar kabar duka. Keponakan ayah saya (laki-laki, 50-an tahun) meninggal karena Hepatitis B. Terakhir mendengar kabar, tingkat keparahannya sudah sampai sirosis. Tempo hari saya mendengar cerita dari seorang teman blogger, keponakannya (laki-laki, 15 tahun) meninggal karena kanker hati. Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun.

Nah, Jumat (27/7/2018) lalu, saya menghadiri kegiatan temu blogger dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Dunia (yang jatuh setiap tanggal 28 Juli) di Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Kebetulan banget yang dibicarakan ini topik yang hangat di sekitar kehidupan saya. Memang bener. Kita harus waspada. Hepatitis ada di sekitar kita.

Apa yang dibicarakan dalam temu blogger tersebut? Saya tuliskan ya rangkumannya. Semoga bisa  nambah ilmu, manfaat, juga keluarga besar kita terhindar dari segalam macam penyakit mematikan macem hepatitis.

Waspadai, Hepatitis Ada di Sekitar Kita!




Apa sih Hepatitis?

Diambil dari bahasa Yunani, hepar artinya hati. Akhiran -itis yang diiringi dengan kata benda menandakan adanya peradangan. Jadi, hepatitis artinya peradangan hati. Demikian penjelasan pembuka yang dilakukan oleh dr. Wiendra Waworuntu, MKes (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung).

Apa Penyebab Hepatitis?

Ada beberapa penyebab hepatitis, di antaranya virus, perlemakan, parasit (amoeba dan malaria), alkohol yang dikonsumsi secara berlebih dalam waktu yang lama, obat-obatan, bisa juga virus penyakit lain yang menyebar ke organ hati seperti dengue dan herpes.

Hepatitis ini ada banyak macam, A sampai E. Orang awam sering menandakan Hepatitis A sampai E n sebagai suatu perjalanan (tingkat keparahan) penyakit. Padahal bukan, lho Ma! Itu hanya perbedaan virus saja yang menyerang hati. Oleh karena itu ada yang namanya Hepatitis A, B, C, D, dan E.

Perbedaan kondisi organ hati yang sehat dengan yang terinfeksi virus hepatitis. (dok. The Star)

Bagaimana Hepatitis Bisa Menular?

Yang namanya penyakit disebabkan oleh virus pasti bersifat menular. Apabila orang yang terinfeksi virus hepatitis memiliki status kesehatan yang tidak baik atau daya tahan tubuhnya lemah, ya sudah deh status kesehatannya akan berubah menjadi pengidap atau penderita. Hal ini berujung pada pengidap bisa sembuh total, mejadi pembawa, atau justru meninggal akibat penanganan yamg telat.

Hepatitis menular melalui dua cara: kotoran-mulut (Hep A dan E) dan kontak cairan tubuh (Hep B, C, D).

Bagaimana hepatitis bisa menular melalui kotoran-mulut (fecal-oral)? Hep A dan E bisa menular melalui makanan/minuman yang tercemar virus hepatitis yang berasal dari tinja penderita. Misal penderita atau pembawa virus hepatitis membuang kotoran sembarangan atau cuci tangan setelah istinja, tetapi tidak bersih. Kemudian, si pembawa virus ini menyentuh makanan atau benda. Orang noninfeksi bila ikut menyentuh makanan atau benda yang tidak steril itu bisa ikut terinfeksi virus hepatitis. Prognosisnya (perjalanan penyakit) bisa sembuh atau tetap menjadi pembawa virus hepatitis. Serem banget ‘kan? Makannya, menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) itu penting!

Apa dan bagaimana virus hepatitis bertransmisi ke dalam tubuh manusia? (dok. SlideShare by HamsHamed)


Di lain pihak, Hep B, C, dan D bisa menular melalui kontak cairan tubuh, seperti transfusi darah dan organ yang tidak skrining, penggunaan jarum suntik yang tidak steril/bergantian, penggunaan tatto, tindik, pisau cukur, jarum perawatan wajah, menicure/pedicure tidak steril, penggunaan sikat gigi bergantian dengan penderita, pasangan homoseksual, sering berganti pasangan. Ibu hamil yang terdeteksi pengidap hepatitis juga bisa menular kepada anak yang dilahirkan. Virus ikut menular melalui robekan-robekan luka saat ibu melahirkan si anak.

Apa Gejala Seseorang Terinfeksi Virus Hepaitits?

Pada umumnya, banyak orang yang tidak memiliki gejala dan tidak tahu jika mereka terinfeksi virus hepatitis. Ini biasa terjadi pada hepatitis yang disebabkan melalui kontak cairan tubuh (Hep B, C, dan D). Gejala umum yang muncul berupa cepat lelah, demam, mual dan nyeri perut, serta nafsu makan berkurang. Karena tidak ada penanda khusus dari gejala hepatitis, sering kali penderita hepatitis baru berobat saat kondisi hati yang sudah parah.

Perjalanan penyakit hepatitis, dimulai dari gambar paling kanan (kondisi hati yang sehat). Karena terinfeksi virus hepatitis dan tidak terdeteksi, hati berubah menjadi kronik, sirosis (pengerasan hati), kanker hati. (dok. A Hangover Free Life)

Berbeda halnya dengan Hepatitis A yang bisa ditularkan melalui makanan, gejala seseorang terinfeksi Hep A akan muncul dalam 15-50 hari (rerata 28 hari) setelah mengonsumsi makanan yang tercemar virus Hep A. Gejala yang muncul bervariasi, bisa ringan sampai berat, berupa:
demam, rasa lemas, nafsu makan berkurang bahkan tidak ada nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut bagian kanan atas, air kencing berwarna teh, dan ikterus (warna kekuningan yang bisa terlihat pada mata dann kulit). Yang mengkhawatirkan, makin muda usia anak, gejala yang muncul umumnya tidak khas atau kadang tidak memberikan gejala sama sekali.

Bagaimana Mencegah Terjadinya Hepatitis?

Deteksi dini dengan melakukan tes darah adalah yang paling akurat untuk mengetahui ada tidaknya virus hepatitis dalam tubuh. Petugas kesehatan akan mengambil sampel darah kita untuk dites, apakah reaktif dengan HBsAg (tes Hep B) dan antiHCV (tes Hep C). Bila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan HBsAg (+), artinya tubuh reaktif/terinfeksi penyakit Hep B. Akan tetapi, bila pemeriksaan antiHCV (+) menandakan orang tersebut pernah terpajan dengan virus Hep C, tetapi tes ini tidak dapat membedakan apakah infeksi yang terjadi masih aktif atau terjadi di masa lampau .

Mengapa hanya HBsAg dan antiHCV saja yang dites? Karena jumlah kejadian penyakit Hep B dan C di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan Hep A, D, dan E. Data dan faktanya kita bicarakan di subbab berikutnya, ya! Lanjut dulu baca tulisannya :D

Melakukan tes darah adalah cara akurat untuk mengetahui apakah kita terinfeksi virus hepatitis atau tidak. Biayanya memang tidak sedikit. (dok. Awareness Days)


Selain pemeriksaan laboratorium, hepatitis juga dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko, yaitu:

Hepatitis A

  • Memasak sampai mendidih dengan air bersih sebelum dimakan,
  • Cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir sebelum menyiapkan makan, sebelum makan, setelah buang air besar, setelah mengganti popok bayi,
  • Buang air besar di jamban yang memenuhi syarat kesehatan, dan
  • Imunisasi Hep A.

Hepatitis B dan C

  • Tidak menggunakan alat-alat pribadi (sikat gigi, pisau cukur, pemotong kuku) secara bergantian,
  • Tidak melakukan tattoo, tindik dengan alat yang tidak steril,
  • Tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian bagi pengguna narkoba suntik,
  • Tidak menggunakan alat pengobatan tradisional yang tidak steril (akupuntur dan alat-alat bekam),
  • Imunisasi Hep B sebanyak empat kali pada bayi baru lahir hingga usia 4 bulan.

Setiap orang bisa menjadi risiko terkena virus Hepatitis bila: menggunakan jarum suntik atau alat pengobatan yang tidak steril, perilaku seks yang menyimpang, ibu yang mengidap Hep B dan melahirkan, penggunaan obat terlarang. (dok. World Health Organization)


Yuk, Dukung Pemerintah Sukseskan Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB)!

Mama tahu nggak, Indonesia pernah menjadi negara endemis penyakit hepatitis? Duh, serem amat ya! Diperkirakan 23 juta penduduk Indonesia pernah terinfeksi virus Hep B (artinya 1 dari 10 penduduk Indonesia telah terinfeksi Hep B). Sementara itu, Hep C diperkirakan 5 juta orang. Jika Hepatitis B sudah ditemukan vaksin untuk pencegahan, sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah Hep C, sehingga pencegahan yang utama adalah menghindari faktor risiko Hep C.

Indonesia merupakan negara dengan pengidap Hep B NOMOR 2 terbesar sesudah Myanmar di antara negara-negara anggota WHO SEAR (South East Asia Region). (sumber: Buku Saku KIE Kemenkes RI tentang Hepatitis)

Karena tingginya angka kesakitan pada Hep B, dalam rangka peringatan Hari Hepatitis Sedunia (28 Juli), pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk deteksi dini hepatitis B (DDHB) untuk menyelamatkan geenrasi penerus bangsa.

Fokus upaya preventif hepatitis B ini ada pada ibu hamil. Masih ingat penjelasan dr. Wiendra di atas, anak bisa tertular Hep B dari ibunya? Bukan, Hep B bukan penyakit keturunan. Hep B bisa menular melalui kontak cairan dalam tubuh, termasuk robekan atau luka pada saat melahirkan.

Tiga narasumber (ki-ka: Anjar (staf Public Relation Kemenkes RI, dr. Wiendra Waworuntu, MKes (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung), dan Dr. dr. Andri Sanityoso Sulaiman, SpPD-KEGH (sekretaris jendral Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia) yang hadir menemani para blogoger di acara temu blogger dalam rangka Hari Hepatitis Sedunia, Jumat (27/7/2018), di Kantor Kementrian Kesehatan RI. (dok. Twitter Kemenkes RI)


Sebanyak 95% kasus Hep B di Indonesia memang didominasi secara vertikal, dari ibu pengidap virus Hep B ke bayi yang dikandung atau dilahirkan. Ini penting untuk keselamatan anak cucu kita, ma! Bayi yang baru dilahirkan itu belum memiliki kematangan organ yang sempurna. Mereka masih terus berproses menyempurnakan dan menyesuaikan dengan kehidupan dunia. Oleh karenanya, bayi yang terinfeksi virus Hep B sejak lahir, perjalanan penyakit akan lebih mudah ke tingkat yang lebih parah hingga kematian dini bila tidak segera dideteksi.

Ada satu contoh kasus yang diutarakan oleh Mbak Dewi, salah satu partisipan temu blogger di kesempatan yang sama. Mbak Dewi bercerita, keponakannya (laki-laki, 15 tahun) belum lama ini meninggal karena kanker hati. Mengapa bisa sampai seperti ini?

Dokter Andri menjawab, “Itulah mengapa hepatitis B ini dikatakan silent disease. Karena perjalanan penyakitnya berubah cepat. Anak yang terkena virus Hep B bisa saja langsung menjadi kanker hati tanpa melalui fase sirosis (pengerasan hati).” Sebagai informasi, Dr. dr. Andri Sanityoso Sulaiman SpPD-KEGH adalah Sekretaris Jendral Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) yang juga turut hadir dalam acara temu blogger.

Mendengar kasus tersebut, dokter Andri menyarankan dilakukannya pemeriksaan laboratorium kepada seluruh keluarga dari yang terdeteksi pengidap hepatitis B, termasuk tantenya. Dokter Andri menganalisa, kasus seperti ini bisa disebabkan akibat penularan virus Hep B dari ibu ke anak. Walau ibunya sehat dan saudara lainnya juga sehat, akan tetapi mereka (yang dianggap sehat ini) bisa bersifat sebagai pembawa virus (carrier). Karenanya, untuk memastikan, dilakukanlah pemeriksaan darah. Dokter Ari juga mempertanyakan status imunisasi remaja tersebut, lengkap atau tidak. Seharusnya, bayi mendapat 4x vaksin Hep B dalam kurun waktu empat bulan pertama kehidupannya.

"Kita semua takut HIV/AIDS, padahal Hep B 100x lebih infeksius. Oleh karena itu, bantu pemerintah yuk untuk mencegah Hep B dengan imunisasi anak-anak kita (HB0, 1, 2, dan 3). GRATIS dari pemerintah!", kata @anjarisme (staf public relation Kemenkes RI) menutup sesi acara.

Nah, mam. Yuk, kita bantu menyukseskan program pemerintah untuk deteksi dini hepatitis B. Apabila mama atau orang di sekitar mama ada yang hamil, lakukan skrining kesehatan. Duh, jangan bilang “Insyaa Alloh aman. Nggak ada apa-apa”, tapi tidak lakukan tes darah. Zaman sekarang pemeriksaan darah itu wajib sebab virus penyakit bertransformasi dengan cepat.

Kalau mama terdeteksi virus Hep B saat hamil, segera konsultasi kepada petugas kesehatan. Saat ini semua bayi baru lahir akan diberi vaksin HB0 dalam kurun waktu < 24 jam. Sementara itu, bayi dari ibu hamil HBsAg reaktif akan mendapat tambahan HBIG <24 jam setelah kelahiran. Booster vaksin 1-3 dilakukan pada saat bayi berusia 2 hingga 4 bulan yang diberikan selama sebulan sekali.

Ini sudah tata laksana nasional. Petugas pelayanan kesehatan tidak akan meminta pernyataan persetujuan kepada orangtua terkait imunisasi bayi baru lahir. Untuk booster, para mama bisa kembali sendiri sesuai dengan jadwal. Pemerintah sendiri sudah MENGGRATISKAN vaksin Hep B ASAL imunisasi dilakukan di kantor pelayanan kesehatan milik pemerintah.

Pada saat hamil si Riyadh (2015), saya juga dirujuk untuk periksa laboratoriun di trimester pertama dan ketiga. Gunanya untuk apa? Ya untuk tahu status kesehatan saya. Alhamdulillah semua hasilnya baik. Pun begitu saat Riyadh lahir. Dia langsung diberi caksin HB0. Pada saat bulan kedua, tiga, dan empat, saya kembali ke rumah sakit untuk melakukan booster HB yang kadang dibarengi dengan vaksin DPT.

Bayangin deh beban pemerintah menanggung satu kasus pasien sirosis. Pemerintah harus mengeluarkan satu milyar untuk satu kasus sirosis dan sekitar lima milyar untuk kasus kanker hati. Banyak banget! Maka dari itu, ikutan yuk program pemerintah deteksi dini hepatitits B (DDHB)! Kalau bukan kita dan anak cucu, siapa lagi yang mau merawat kesehatan kita dan generasi keluarga mendatang?

Wassalaam
Cari tahu tentang hepatitis dan berbuatlah saat ini juga untuk eliminasi hepatitis! (dok. IAS Paper)


15 komentar

  1. Sekarang penyakit Hepatitis lagi marak-maraknya ya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. silent killer penyakitnyaaaa. tiba2 udah stadium gawat aja

      Hapus
  2. Semoga kita semua terlindungi dari penyakit Hepatitis ya ....

    BalasHapus
  3. Orang di sekitarku pernah mengalami hepatitis. Kasihan melihatnya melihat wajahnya jadi kekuningan dan lemas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya salah satu cirinya seperti itu. kuning karena tugas hati si penetral racun tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

      Hapus
  4. Nah masalahnya Orang memang masih banyak yg malu mengakui juga sih klo dirinya kena hepatitis.

    BalasHapus
  5. Nesaa, lengkap banget infonya nih, makasih ya, jadi makin aware sama hepatitis jadinya..

    BalasHapus
  6. mba tulisan kayak gini mesti banget di share emang, karena banyak lho yang udah dewasa trus kena hepatitis , ada yang badannya kuning, katanya sih karena sering lembur dan banyak minum kopi.. duh serem ya mba

    BalasHapus
  7. Hepatits iti ternyata serem bnht y gejalznya hmpir gk ada tp akibatnya bikin ngeri. Mesti bnr3 jaga pola hidup dn cek rutin ksehatan

    BalasHapus
  8. Oh iya betul ada anggapan hepatitis penyakit turunan. Ternyata karena adanya kontak cairan dalam tubuh pada saat melahirkan ya. Makasi sharingnya mba.

    BalasHapus
  9. Baru tahu, ternyata hepatitis infeksius 100 kali dibanding HIV

    BalasHapus
  10. jangan sampai tidak berinvestasi ke imunisasi..

    banyak yg ga sadar kalo terkena hepatitis ya karena gejalanya seperti sakit biasa aja

    BalasHapus
  11. Aku malahan kalau meni dan pedi sudah membawa peralatan sendiri dan dirumah pun sama penggunaan gunting masing-masing punya sendiri.

    BalasHapus
  12. serem juga ini penyakit hepatitis.. meski kita udah jaga-jaga ya bisa aja tertular karena hal hal di luar kekuasaan kita.. moga kita selalu sehat

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)