Yuk, Dukung Kebiasaan Menulis untuk Kecerdasan Anak!

Assalaamu’alaikum…

Apa kabar para mama? Aduh, dua bulan aku tak mengisi blogku T_T Sungguh manajemen waktu yang tidak baik banget ini. Kalau ada yang nyariin, maapkan aku ya! Kan udah mau puasa :D

Anyway, kali ini saya mau cerita tentang kebiasaan menulis. Ilmu ini saya peroleh saat menghadiri Talkshow Membangun Generasi Cerdas Indonesia melalui Kebiasaan Menulis di The Icons, Morrissey Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (8/4/2018) lalu. 

WHY, WHY MUST WRITING? Iya soalnya di Indonesia ini udah banyak banget gerakan gemar membaca, tapi MANA gerakan gemar menulisnya? Menulis di sini dalam artian menulis di buku, kertas, memo atau media lainnya dengan alat tulis. Bukan menulis di gawai (gadget). Itu namanya mengetik! :p

Yuk, Dukung Kebiasaan Menulis untuk Kecerdasan Anak!

Rendahnya Kebiasaan Menulis di Indonesia

 As a new mom, kalau di linimasa medsos ejkeh, wuiiihhh para mama seakan-akan berlomba membacakan buku atau paling nggak memperkenalkan buku kepada anaknya sedini mungkin. Belum lagi yang heboh berburu buku di berbagai pameran buku. Semua merupakan usaha orangtua agar kelak sang anak gemar membaca. Emang salah? Yaa nggak, Ma. Rajin membaca bisa membuka wawasan anak. Akan tetapi, jangan lupakan juga peran menulis yang turut berperan serta mencerdaskan anak. Kita mau ‘kan nakanak tumbuh dengan sehat dan cerdas?

Sayangnya, di Indonesia ini kebiasaan menulis masih tergolong rendah. Nurman Siagian (salah satu narasumber dia acara tersebut yang juga Pakar edukasi anak sekaligus Koordinator Program Pendidikan Wahana Visi Indonesia, mitra dari NGO internatsional yang fokus pada pembangunan dan pendidikan) mengatakan, hasil survey tiga tahunan Programme for International Student Assessment(PISA) 2015 yang dikeluarkan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menunjukkan, kompetensi anak Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 72 negara.

Huhuhuh, cian bener, ya! Sungguh terbelakang dengan posisi 12 dari bawah. Padahal negara tetangga, si Singapura menempati peringkat nomer wahid! 

Moderator dan para narusmber dalam Talkshow Membangun Generasi Cerdas Indonesia melalui Kebiasaan Menulis di The Icons, Morrissey Hotel, Jakarta Pusat , Selasa (8/4/2018). Dari kiri ke kanan: Prameshwari Sugiri (moderator), Nurman Siagian (pakar edukasi nak), Melly Kiong (seorang praktisi mindful parenting dan penulis beberapa buku parenting best seller), Martin Jimi (Consumer Domestic Business Head SiDU), Fayyana Ailisha Davianny (penulis cilik). Dokumentasi: Instagram SiDu)

Sementara itu, masih berdasarkan penuturan Nurman, dalam skala nasional berdasarkan riset yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016 menyebutkan, sebanyak 73 persen anak Indonesia masih dikategorikan kurang dalam hal kompetensi.

Nurman menjelaskan, isu kompetensi ini berkaitan erat dengan lemahnya kebiasaan menulis di kalangan anak Indonesia. Padahal, menulis memiliki bermacam manfaat, diantaranya mengasah keterampilan berpikir kritis, daya ingat, juga motorik.

Apa faktor lemahnya kebiasaan menulis di Indonesia? Pesatnya perkembangan gawai turut berperan aktif dalam menurunkan kebiasaan anak menulis. Di sisi lain, rendahnya kompetensi guru di Indonesia juga berperan dalam lemahnya kebiasaan menulis pada anak Indonesia.

Kegemaran membaca yang dipadukan dengan kegemaran meulis bisa memunculkan generasi-generasi cerdas utuk anak Indonesia.

Riset lain Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014 menunjukkan, kompetensi tenaga pendidik Indonesia hanya berada pada angka 44,5 dari angka yang ideal yaitu 70. Guru mengalami kesulitan dalam menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam kelas. Nurman menjelaskan, biasanya guru itu hanya copy-paste kurikulum yang diberikan pemerintah. Mereka tidak mencerna kembali tujuan pembelajaran itu untuk anak didik dan bagaimana merealisasikannya secara nyata.

Meski kompetensi guru di Indonesia juga rendah, kebiasaan menulis (dengan alat tulis) tetaplah bermula dari pembiasaan orangtua. Rumah sebagai sekolah pertama anak diharapkan melatih anak untuk memiliki kebiasaan menulis. Masih dari penuturan Nurman, hasil penelitian menunjukkan ketangkasan anak SD dalam memegang pensil mulai berkurang seiring kebiasaan mengetik di gawai. That's why ya, ku juga pernah dengar dari kelas parenting Ummu Balqis, agar orangtua tidak memberikan anak gawai sebelum usia 6 tahun. And i'm lost parenting without gadget. Duh, Maaaa ampun dah tantangan jadi orangtua sekarang :(

Salah satu faktor rendahnya kegemaran anak menulis adalah massive-nya perkembangan gawai. Parenting without gadget jadi tantangan terbesar bagi kebanyak orangtua zaman now.

Bagaimana Melatih Kebiasaan Menulis pada Anak?

Nah, ini yang menjadi pe er kita bersama. Saya pernah mendengar, sebenarnya dari bayi itu manusia sudah belajar menulis. Kok bisa? Jadi, gerakan bayi memegang puting ibu saat menyusui langsung disinyalir sebagai gerakan motorik anak untuk menulis.

Di talkshow parenting beberapa waktu lalu bareng HIJUP, psikolog anak Devi Sani juga mengatakan, merangkak juga sebagai proses latihan pada anak untuk gemar menulis. Anak yang melewati fase merangkak, biasanya lebih cepat capek saat menulis. Dengan merangkak, anak melatih kekuatan tangan hingga lengan yang menyokong dalam gerakan menulis. Oke, itu kita bicara tentang lahitan motorik.

Sekarang bagaimana cara menumbuhkan minat menulis pada anak? Menyambung penjelasan Nurman Siagian, seorang praktisi mindful parenting dan penulis beberapa buku parenting best seller, Melly Kiong menceritakan, ia memulai kebiasaan menulis pada anak-anaknya dengan menuliskan teka-teki yang terdapat di dalam bekal makanan si anak. Bagi Melly, komunikasi tidak hanya dilakukan lewat verbal (ucapan), tetapi juga bisa lewat tulisan.

Salah satu contoh memo kecil untuk anak-anak yang bisa dunduh lewat internet.

Kenang Melly, dirinya merasa sangat sedih saat mengetahui bekal makanan yang ia bawakan untuk anaknya tidak dimakan sedikit pun. Ia mencari cara supaya bekal makanannya dihabiskan dengan cara menyempilkan secarik kertas berisi teka-teki di setiap bekal makanan. Apa yang terjadi? Makanan pun dihabiskan! Sejak saat itu Melly selalu membuatkan teka-teki sederhana untuk anak di dalam bekal makanan. Plusnya lagi, bukan hanya si anak yang curious tentang teka-teki yang diberikan Melly, melainkan teman-temannya juga. "Hari ini ada teka-teki apa lagi ya dalam makananmu?", ujar Melly menirukan rasa penasaran temen-teman anaknya Melly.

Tidak hanya memberikan teka-teki, Melly juga mengajak anak mengisi jurnal harian dalam rangka menumbuhkan kebiasaan menulis. Ia menyebutnya sebagai mocil alias memo kecil. Sebagai ibu bekerja yang tidak bisa melihat perkembangan anaknya setiap saat, Melly menuliskan kebaikan-kebaikan yang dilakukan si anak setiap harinya dalam secarik kertas yang ditempel di kulkas.

"Hari ini adek sudah berbuat baik apa? Oooo.. Hari ini adek pipis sendiri, tidak ngompol di celana! Waa pinter, ya! Mama tulis ya di kertas yang ditempel di kulkas. A-dek-su-dah-bi-sa-pi-pis-sen-di-ri", tutur Melly.

Anak memang tidak bisa membaca apa yang Melly tulis. Akan tetapi, Melly yakin, anaknya tahu kebaikan-kebaikan yang dilakukannya akan ditulis oleh mama. Secara tidak langsung, hal ini mengajarkan anak untuk terus berbuat baik karena merasa dihargi oleh orangtua. Pencatatan kebaikan-kebaikan anak ini juga akan diingat oleh anak bahwa menulis itu baik sekaligus bisa menjadi catatan tersendiri untuk para orangtua tentang perkembangan anak. Bermanfaat banget, ya caranya!

Begitu anak sudah kenal dengan menulis, lalu terbiasa menulis, Melly meminta anak untuk mengisi jurnal hariannya sendiri. Melalui tulisan-tulisan sederhana anak, orangtua dapat melihat talenta terpendam anak atau bahkan masalah yang sedang anak hadapi di sekolah. Pada salah satu buku jurnal harian anak yang dibawa Melly, ada cerita sekaligus penampakkan gigi bungsu pertama anak yang copot. Hihihi lucu, ya kalau buat kenang-kenangan di masa depan.

Lain Melly, lain pula Fayyana Ailisha Davianny, penulis cilik yang telah mempublikasikan lebih dari 42 buku di usia 13 tahun. *duh, ejkeh 13 tahun bisanya ngapain waktu ituuu?* Fayyana mulai kenal menulis saat orangtuanya kerap membacakan buku cerita di usianya satu tahun. Fayyana juga sering diajak ke toko buku.

Fayyana Ailisha Davianny, penulis  cilik yang sudah mempublikasikan buku sebanyak 42 buku di usia 13 tahun.
Menurut gadis yang kini tinggal di Depok, dengan menulis, ia bisa berpikir secara sistematis dan terstruktur, serta mempermudah dalam menyerap pelajaran. Sejak kelas 1 SD, ia sangat suka menulis. Jika ada ide cerita, ia tuangkan dalam sebuah tulisan di buku.  Dari sinilah, orangtua Fayyana melihat talentanya. Di usia 8 tahun (kelas 2 SD), ia mengikuti kompetisi menulis pertama kalinya dalam ajang Kecil-kecil Punya Karya (KKPK) terbitan DAR! Mizan. Siapa sangka, ia meraih juara kedua. Ceritanyapun berhasil dibukukan untuk yang pertama kalinya. 

Dari kompetisi tersebut, kemampuan menulis Fayyana semakin terasah. Ia memperdalam ilmu menulis cerita anak dengan baik. Dari menulis, Fayanna bisa mengajak orangtuanya pergi ke beberapa negara untuk menemani dirinya sebagai motivator untuk menulis, kunjungan studi, hingga kompetisi antarnegara. Bahkan, baru-baru ini gadis kelahiran 6 Maret 2005 mendapat juara pertama dalam Lomba Cerpen Tingkat Asia. Ahhh, Maaa mendengar kisah sukses rangorang dari menulis itu enak bener, ya! :)

Ayo, Menulis bersama SiDU!

Berangkat dari kondisi terbelakangnya kompetensi anak Indonesia dan memahami penitngnya kebiasaan menulis, SiDu meluncurkan gerakan "Ayo, Menulis bersama SiDU!" pada April 2018 lalu. Bekerja sama dengan Renny Yaniar (penulis ternama ratusan buku anak), SiDU menyusun modul buku latihan menulis yang terdiri dari berbagai topik anak yang menarik di antaranya: mengenal diri sendiri, asal muasal kertas, cerita dongeng, dan perhelatan olahraga akbar yang sebentar lagi diadakan di Indonesia yaitu Asian Games 2018. Kekinian donk isi bukunya! 

Modul "Ayo, Menulis Bersama SiDU" yang diterbitkan oleh APP Sinar Mas melalui SiDU.

Beragam topik tersebut diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang menstimulus anak untuk mengutarakan pendapat serta idenya melalui tulisan tangan. Modul ini berisi kegiatan yang harus diisi selama 21 hari. Mengapa 21 hari? Menurut Martin Jimi, Consumer Domestic Business Head SiDU, hasil studi mengungkapkan, kebiasaan baru dapat dibentuk dengan rutin bila kita melakukannya selama minimal 21 hari.


Tidak hanya menuntut anak untuk aktif menulis, gerakan "Ayo, Menulis Bersama SiDU!" juga mengajak orangtua dan guru untuk melakukan pendampingan selama 21 hari.


Modul "Ayo, Menulis Bersama SiDU!" juga dilengkapi dengan berbagai sisi pengetahuan, salah satunya cerita asal-muasal kertas.


Gerakan "Ayo, Menulis bersama SiDU!" melibatkan 20.000 murid (kelas 4 dann 5) dari 100 SD di Jabodetabek. Di dalam buku ini, tidak hanya anak yang berperan aktif dalam pengisiannya. SiDU juga melibatkan orangtua dan guru untuk proses pendampingan selama 21 hari. Jadi, tidak hanya anak saja yang dituntut untuk gemar menulis. Orangtua juga perlu tahu sejauh apa proses kegemaran anak dengan menulis. Barangkali juga kelak ditemukan talenta juga cerita-cerita anak yang tersembunyi dari pendampingan gerakan ini. 

Modulnya gratis, Ma! Kalau Mama mau mendapatkan buku ini, daftarkan sekolah anak Mama, ya di ayomenulis.id supaya bisa diikutsertakan dalam gerakan "Ayo, Menulis bersama SiDU!" 

Semoga bermanfaat! Wassalaam.




Ayo, menulis bersama SiDU di 100 SD Jabodetabek! (dok. Instagram SiDU)









Komentar

  1. wah ternyata selain membaca anak sebaiknya dibiasakan menulis juga yaa. jadi ingat pepatah kalau ilmu akan diingat dengan menuliskannya. aku sendiri sudah jarang banget nulis karena tulisan yang benar-benar jelek. heu

    BalasHapus
  2. anak saya masih agak susah kalau disuruh nulis lebih seneng gambar

    BalasHapus
  3. Wah informasi yang sangat bermanfaat...semoga kedepannya kegiatan ini bisa ke seluruh Indonesia...

    BalasHapus
  4. Gua dulu waktu kelas 4 SD udah belajar nulis puisi buat cewek, sialan gua mah, kreatif nya buat cewek aja hehe

    BalasHapus
  5. wah ini oke banget buat anak-anak, memang kaya aku dulu nulis itu males banget. Berlama-lama di meja hanya untuk menuli situ sering berat. Tapi ini penting dan semoga penerus bangsa semakin gemar menulis ya

    BalasHapus
  6. Zaman dulu waktu sekolah, buku tulisku selalu merek Sidu. Hahaha.

    BalasHapus
  7. Inget sidu jadi inget jaman sekolah,.. Kudu banget deh jaman sekarang itu rajin nulis, jangan kebanyakan nge-gawai, hehege

    BalasHapus
  8. ih aku seneng banget baca tulisan mba nisa, selama taunya anak diajak utk suak membaca dan saya pribadi sering lupa mengajak anak gemar menulis. makasi banyak ilmunya mba

    BalasHapus
  9. Seruuu banget! Program SIDU ssangaaat edukatif ya kak
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
  10. Betul. Biasanya kalau anak sudah suka membaca, ia akan gampang diajari untuk menulis, bahkan sudah suka menulis.

    BalasHapus
  11. gerakan yang patut diapresiasi ya karena dari rajin menulis otomatis akan rajin membaca. Great!

    BalasHapus
  12. 13 tahun udah nerbitin 42 buku, sedangkan saya?
    Yahhh ampun..

    BalasHapus
  13. benar mbak, guru memang butuh perjuangan untuk menulis pula...seperti RPP.

    Ohya, bisa tahu contoh teka-teki yng bisa membuat anak menghabiskan makanannya itu?

    BalasHapus
  14. Lucu banget sihhh, dulu buku tuh polosan aja ya, sekarang udah beda.

    BalasHapus

  15. Kalo saya perhatiin, orang tua jaman now udah 'manjain' anak balita mereka dengan gawai. Rewel dikit, langsung 'disumpel' gadget. Orang tua juga musti dididik neh.

    Dan, tentang kebiasaan menulis ini emang harus digalakan. Ayo mari kita menulis (bukan ngetik). 😁

    BalasHapus
  16. Yap, bener banget nih, jadi yang terpenting saat ini itu 'lingkungan skitar' yang mendukung. Bisa dibilang pondasi awal itu sebuah kebanggaan dari luar, kemudian akan tumbuh percaya diri.

    BalasHapus
  17. wahhh aku baru tau..
    gerakan bayi memegang puting ibu saat menyusui langsung disinyalir sebagai gerakan motorik anak untuk menulis.

    berarti gerakan2 bayi dr proses dia belajar jalan sebenarnya itu sudah proses belajar menulis ya.

    BalasHapus
  18. Wah keren banget Fayyana usia 13 tahun sudah menulis 42 buku, wah semmoga anak aku kelak rajin menulis juga ya amin...

    BalasHapus
  19. wah bener banget kaka, menulis mesti dimulai dr sejak dini.. jd seenggaknya si anak jd terbiasa

    BalasHapus
  20. Wah keren ini gerakan menulis untuk anak

    BalasHapus
  21. Membacanya membuatku tersadar Kak, i have to do something. Sebagai guru di zaman sekarang, kami cenderung mengajar praktis menggunakan power point dan video2. Well, saya lupa bahwa menulis pun juga harus tetap dibudayakan meski mereka (murid2 saya) sudah sangat pandai kalau diberi tugas yang pengerjaannya harus dengan bantuan teknogi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)

Postingan populer dari blog ini

Merayakan Ulang Tahun Anak di Rumah

[My 1st Pregnancy] Tentang Jenis Kelamin di Minggu ke-21

Merawat Kulit Wajah bersama Garnier Duo Clean Whitening-Smoothing