Senin, Oktober 09, 2017

Lima Kiat Memulai Investasi

Assalaamu'alaikum...

Buibuuu, masih dari rangkaian #IbuBerbagiBijak bareng Visa World Wide Indonesia, Selasa (3/10/2017) lalu adalah sesi ketiga dari seri workshop literasi finansial bersama Prita Ghozie. Sesi terakhir, nih. Hiks, sedih karena nggak bisa nanya-nanya gratis dan langsung dijawab sama pakarnya. Di sesi tiga ini kita ngebahas masalah investasi.

Mengapa harus berinvestasi? (dok. Instagram @oniesofyan)

Sebagai menteri keuangan di rumah, "melek" sama urusan uang merupakan sesuatu yang wajib, ya. Akan tetapi, buat mama Riyadh yang usia pernikahannya masih seumur jagung ini *tsaelaahh*, tau si tau yah teori, tapi bingung gitu harus memulai dari mana. Hehehee.. Contohnya yaa masalah investasi ini.

Saya tahu, investasi itu penting. Dibandingkan menabung, investasi lebih menjanjikan hasilnya meskipun risiko juga lebih tinggi. Akan tetapi, katanya yaa. Karena saya belum pernah berinvestasi, risiko yang lebih tinggi ini bisa diminimalisir dengan semakin lamanya berinvestasi. Ini yang bikin saya maju mundur berinvestasi.

Baca juga: Cek Kesehatan Keuanganmu dengan FInancial Check Up!

Sebenarnya balik lagi si ke personal, bukan usia pernikahannya. Kalau orangnya dah aware dan commite maaah, dari single juga udah ikut investasi, ya. Jangan kayak saya, udah niat dari Riyadh 6 bulan, sampe mau usia 24 bulan belum juga melakukan investasi *sighs*

So, here we go. Karena sudah tahu ilmunya, mari praktikkan! HARUS! Sekalian saya sharing, ya buat pembaca tentang materi yang saya dapat kemarin. Thanks dulu ke The Urban Mama yang udah ajak saya ikut event ini dan berbagi ke manteman.

Buibu dari komunitas @TheUrbanMama dan @Emak2Blogger yang ikutan workshop literasi keuangan bareng Visa Indonesia dan PritaGhozie, Selasa (3/10/2018) di Menjangan Restoran, Kemang. (dook. Instagram @anitamayaa)

Sebelum mengenal lebih dalam tentang investasi, Prita memulai informasi dengan lima prinsip berinfestasi.

1. Pahami profil risiko investor

Nah, kita paham dulu nih tentang kondisi keuangan kita juga tujuan yang akan dicapai. Dengan perekonomian keluarga seperti ini, apan saja rencana keuangan yang akan dicapai beberapa tahun kemudian. Mana yang akan diprioritaskan.

Tentang profil risiko, Prita memberikan ilustrasi seekor sapi. Bagi Prita, hewan penghasil susu ini paling mudah menjadi permisalan tentang investasi, termasuk bila seseorang bertanya tentang investasi syariah.

Prita bertanya kepada buibu yang hadir. Jika memiliki sapi, apakah sapi ini ingin kita gemukkin supaya nanti bisa dijual dengan harga tinggi atau mau terus memelihara sapi beserta perahan susunya setiap bulan? Kalau kita memilih gemukkiin sapi, lalu dijual, secara otomatis kita sudah tidak punya apa-apa lagi pasca sapi dijual. Akan tetapi, bila memilih untuk memelihara sapi dan berharap memiliki tambahan income dari hasil perahannya, kita juuga punya risiko kematian sapi suatu saat yang bisa menghentikan pemasukkan. Hayo, piliih mana?

Itulah investasi. Kita tidak bisa menyamakan keuntungan dan risiko dari setiap investasi. Kita tidak bisa membandingkan lebih baik mana, memiliki emas atau depositio? Emas diibaratkan penggemukkan sapi yang kalau dijual harganya langsung bisa tinggi, tetapi tidak bisa menghasilkan pendapatan per bulan. Di lain pihak, deposito bisa.

Saran Prita, jika masih usia produktif, kita bisa memilih investasi yang bisa menggemukkan sapi. Bila sudah pensiun, carilah investasi yang banyak menghasilkan susu.

Jika sudah tahu tujuan berinvestasi, pilihlah investasi yang tepat. Adapun tiga tipe profil investor meliputi:

  • investor konserfativ (100% defensif)
  • investor moderat (60% defensif, 40% agresif)
  • investor agresif (30% defensif, 70% agresif)

Dari tiga tipe profil investor tersebut, semakin ke bawah investor tersebut semakin berani mengambil risiko.

2. Tentukan jangka waktu

Sudah tahu tujuan berinvestasi, tentukanlah jangka waktunya. Sampai kapan kita berinvestasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Apakah berinvestasi untuk jangka pendek, menengah, atau panjang. Investasi pendidikan anak untuk jenjang kuliah tidak melulu harus investasi jangka panjang. Ini tergantung pada usia anak saat kita mulai berinvestasi. Semakin dini dilakukan, semakin bagus, semakin panjang jangka investasinya.

Saran Prita, kalau untuk kebutuhan jangka pendek, boleh menabung saja. Namun, jika kebutuhannya masih lama, ya berinvestasilah.

Baca juga: Empat Cara Membuat Anggaran Belanja Rumah Tangga Agar Tidak Bocor

3. Ragamkan harta investasi

Buibu, kalau ngomongin investasi pasti timbul pertanyaan, investasi apa minim risiko, tetapi balik modalnya cepat? Nah, mari pahami dulu yuk beda menabung, investasi, dan spekulasi.

Menabung (saving):
  • kegiatan menyimpan uang, 
  • contohnya pasar uang dan sertifikat deposito, 
  • tetapi pertumbuhannya lambat.
Investasi (invest):
  • paling tidak dilakukan selama tiga tahun, 
  • semakin lama semakin baik, 
  • contohnya investasi saham, oblogasi, real estate, 
  • tetapi risiko juga meningkat.
Spekulasi (speculate):
  • bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dalam waktu singkat
  • contohnya trading,
  • tetapi paling berisiko di antara dua di atas
Nah, kan yah sudah jelas terlihat perbedaannya. Masing-masing ada plus minusnya, balik lagi pada tujuan keuangan. Kalau untuk dana pendidikan play group dan usia anak masih bayi, kita bisa gunakan tabungan. Akan tetapi, bila anak masih bayi dan kita ingin mempersiapkan dana pendidikan kuliah HANYA dengan menabung saja, dikhawatirkan banyak nombok nanti. Mengapa? Sebab pertumbuhan uang untuk menabung itu lambat. Begitu anak besar, jatuh tempo membayar uang pangkal kuliah, uang di tabungan masih segitu-segitu aja.

Prita Ghozie, financial educator dalam tiga sesi workhsop literasi keuangan bersama Visa Indonesia.

Jadi, gimana dong supaya tujuan keuangan tercapai? Ya, ragamkan investasi. Ada tiga ragam investasi menurut Prita:
  1. Aset fisik, merupakan aset yang kita pegang wujudnya secara riil, seperti investasi properti logam mulia, jasa sewa mainan, jasa sewa tas bermerk. Menurut Prita, setiap orang harus punya investasi berupa set fisik.
  2. Surat berharga, merupakan jenis aset dimana kita tidak memegang fisiknya, tetapi tercatat di lembaga keuangan, contohnya: deposito, obligasi, saham di perusahaan terbuka, reksadana
  3. Bisnis, seperti franchise dan usaha.

Dari ketiga ragam investasi tersebut, saham memiliki risiko yang cukup besar dalam berinvestasi. Akan tetapi, investasi di bidang bisnis adalah risiko yang paling besar. Bila saham hanya mengalami kerugian pada saat harga turun, bisnis bisa mengalami kerugian hingga aset mencapai 0 rupiah.

Karena hidup adalah pilihan dan setiap pilihan mengandung risiko, pun begitu denagn investasi. Risiko investasi pada umumnya terbagi menjadi empat:
  • Risiko likuiditas
  • Risiko volatilas harga
  • Risiko gagal bayar
  • Risiko pasar, seperti halnya berinvestasi di saham yang harganya naik dan turun, bergantung pada harga di pasar.
Sebenarnya, masih ada lagi satu risiko yang paling berbaya dalam berinvestasi, yakni investasi bodong atau penipuan berkedok investasu. Dengan iming-iming pengembalian modal yang cepat dan keuntungan besar. Banyak orang yang tertipu dengan investasi bodong. Pada akhirnya, bukan keuntungan yang dicapai, tetapi modol alias kerugian. Tak jarang, modal tak balik, keuntungan juga tidak didapat.

Prita menyarankan jika Anda atau saudara ada yang menjadi korban investasi bodong, untuk segera cek kembali sisa kekayaan yang masih ada. Jika masih ada, lakukan investasi yang memang sudah terpercaya. Selanjutnya, tetap bersyukur atas segala yang terjadi untuk menjaga kewarasan diri.

Trus, apa aja sih ciri investasi bodong? Yuk, kenali penipuan berkedok investasi supaya kita tidak mudah teriming-iming.

Kenali ciri-ciri investasi bodong agar kita terhindar dari penipuan. Sumber gambar dibuat kembali berdasarkan presentasi Prita Ghozie di #IbuBerbagiBijak


4. Lakukan investasi secara bertahap dan berkala

He eh, seperti halnya di banyak artikel tentnag investasi, segeralah memulai asuransi. Yang salah itu bila Anda menunda. Hiks, berasa ngena banget ini sama saya. Jadi, mari lakukan investasi secara bertahap dan berkala. Yang naanya investasi itu tidak bisa cepat menuai hasil. Butuh proses. Karena ada proses, ada pula strategi dalam berinvestasi.

  • Cost averaging
    Disiplin berinvestasi setiap bulan dan tidak terpengaruh kondisi pasar. Bulan lalu 'kan sudah dibahas porsi-porsi anggaran rumah tangga untuk investasi berapa persen. Yess, berikan pos setiap bulan untuk berinvestasi. Investasi rutin dapat membantu kita meminimalisir exposure downside risk pada portofilio kita suatu waktu.
  • Diversivication
    "Never put all your egg in one basket"
    , gitu kata ilustrasi yang diberikan Prita. Sesuai dengan salah satu dari lima prinsip berinvestasi, ragamkan investasi. Minimalisir risiko dengan berinvestasi di berbagai sektor atau instrumen.
  • Long term
    Risiko berinvestasi tidak dapat dihindari, tetapi pada umumnya dapat diminimalisir dengan lamanya jangka investasi.
Investasi adalah alat terbaik membantu Anda untuk meraih long term goal.

Prita memberikan contoh kasus pada dana pendidikan anaknya yang pertama, Nizieta, mulai dari play group hingga jenjang pendidikan sarjana. Prita mempersiapkan dana pendidikan sedari Nizieta berusia satu tahun, sejak tahun 2008. Dengan modal riset biaya pendidikan pada sekolah yang dituju pada tahun 2008, ditambah inflasi 10 persen, terangkumlah biaya-biaya pendidikan Nizieta hingga waktunya sesuai jenjang pendidikan. Dari hasil rincian tersebut, diperoleh kesimpulan:

  • Dengan menabung, Prita harus mempersiapkan dana Rp 6,5 juta/bulan
  • Dengan berinvestasi, Prita harus mempersiapkan dana Rp 2,8 juta/bulan
Contoh kasus dana pendidikan Nizieta. Siapa yang sudah bikin tabel seperti ini untuk dana pendidikan anaknya? (dok Instagram The Urban Mama)


5. Evaluasi dan lakukan perubahan alokasi bilamana perlu

Berinvestasi sudah benar, tetapi melakukan evaluasi juga perlu. Kita harus selalu meneliti kembali, apa tujuan berinvestasi, apakah investasi yang dilakukan sudah tepat, apakah uang kita sudah cukup untuk mencapai keinginan.

Yup, itu dia sesi sharing keuangan bareng Prita Ghozie. Saya jadi makin gamblang aja si step by step untuk berinvestasi. Sebelumnya sudah baca artikel, tanya-tanya, tapi masih ragu. Kalau begini 'kan tahu teori dari pakar, dijelaskan, dilengkapi pengalaman orang-orang, daaan saya udah mulai tergambar mau apa dan bagaimana. Mudah-mudahan sharing saya kali ini bermanfaat, yah.

Jadi, sudah yakin berinvestai? Kalau sudah, investasi apa yang kamu pilih?



21 komentar:

  1. Ngeri kalau sampai ketipu investasi bodong. :( Makanya, nggak boleh sembarangan dalam milih investasi, ya? Harus ngerti triknya. :D

    BalasHapus
  2. Save. :D Bakal perlu banget kalau mau investasi. Biar nggak sampai kena investasi bodong.

    BalasHapus
  3. Investasi untuk masa kini dan masa depan ya

    BalasHapus
  4. Iya bener. Investasi saham paling tinggi resikonya.
    Aku juga lg mau mulai invest saham nih. Cuma lagi ngelirik2 saham mana yg akan aku beli dan maintainya gimana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. reksadana saham? Nanti share ya kak oliiine pengalamannya

      Hapus
  5. Mau mulai belajar investasi nih satu2. Jadi punya banyak telor di beberapa keranjang. Jaga-jaga untuk masa depan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener. ragamkan investasi ya.
      aku juga baru mulai :D

      Hapus
  6. Investasi bodong ini emang masih banyak ya mba :(

    Perlu edukasi kayak workshop gini lebih luas lagi, supaya nggak ada yang ketipu nantinya. Thanks for sharing yaa :)

    BalasHapus
  7. Yes trimakasih sudah dikasih info soal kiat-kiat, bahkan sampai lima yaa..

    BalasHapus
  8. wahhh, alhamdulillah saya sudah memulainya sejak tahun lalu.

    saya ada 2 program nih mbak, ibaratnya saya punya 2 sapi. yang satu sedang digemukkan, yang satu dikembangbiakkan,

    saya ada emas dan reksadana

    adapun target saya jangka panjang, +

    kalau untuk jangka pendek memang lebih baik di tabung saja, seperti biaya pernikahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. wuihhh.. seperti yang udah aku komen di twitter, nanti sharing ya di blog nya pengalaman berinvestasi dengan cara apa juga. trims udah berkunjung

      Hapus
  9. Soal investasi bodong ini perlu lebih banyak disebarluaskan sepertinya. Masih banyak orang Indonesia yang mudah tergiur imbal balik besar dan abai ngecek profil produk/badan usahanya.

    BalasHapus
  10. Catet banget nih tentang investasi bodong soale sekarang udah meraja lela.

    BalasHapus
  11. Investasi penting banget untuk masa depan dan ilmunya sangat bermanfaat sekali ya mbak.

    BalasHapus
  12. Semakin tinggi resikonya, semakin besar juga yaa hasilnya. Thanks for sharing :)

    BalasHapus
  13. yang ngeri itu investasi bodong ya,hihhi... tapi sekarang makin cerdas dan bijak pilih investasi sejak ikutan workshop bareng ibu bijak :)

    BalasHapus
  14. investasi tuh penting sihh.. tapi wajib dipelajari semua resikonya sebelum memilih investasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, mbak. Mangkenye aku mau mulai juga bingung. ehhehe

      Hapus
  15. Aku belum pernah berinvestasi.Tapi dengan informasi ini dapat pencerahan deh.thanks ya infonya mbak

    BalasHapus
  16. Acaranya seru ya, jadi tahu kalau investasi mau yang mana aja.

    BalasHapus
  17. Wah bner tuh mba yg maslah investasi bodong, hrus bner2 di cek legalitasnya, jgj krna tergiur untung besar kita main ambil aja.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)