Senin, September 11, 2017

Empat Cara Membuat Anggaran Belanja Rumah Tangga Agar Tidak Bocor

Assalaamu'alaikum...

Masih ingat dengan blogpost saya tentang financial check up? Buat yang sudah melakukan, bagaimana hasilnya? Masuk di kuadran berapa hayoo? Masih tergolong sejahtera, aman, was-was, atau buruk? Simpan jawabanmu dan jangan terlalu pikirkan karena masih ada beribu kesempatan untuk diperbaiki. Yuk, kita lanjut ke step selanjutnya supaya keuangan keluarga semakin lebih baik! *optimis

Kali ini saya akan membahas cara membuat anggaran belanja rumah tangga supaya tidak bocor, bocor, bocooorr! Bocor halus emang nggak berasa. Akan tetapi kalau bocor halusnya banyak, yaa kedodoran juga lah ya uang bulanan. Materi yang akan saya tuliskan ini masih berdasarkan keikutsertaan saya dalam Kelas Finansial bersama Visa (Ibu Berbagi Bijak) dan Prita Ghozie sebagai narasumbernya, Kamis (24/8/2017) di The Hook, Jakarta.

Ada empat langkah dalam membuat anggaran belanja rumah tangga, yaitu:
  1. Tentukan prioritas,
  2. Mengelola arus kas,
  3. Meraih mimpi, dan
  4. Tentukan anggaran bulanan dan musiman
Sesi ke-2 dari Visa Ibu Berbagi Bijak "Cara Membuat Anggaran Belanja Rumah Tangga".

Tentukan Prioritas

Kamu sudah tahu dalam kuadran berapa hasil financial check up keuangan keluarga. Selanjutnya, coba tanyakan kepada suami dan kamu sendiri tentang dua hal: (1) Berapakah biaya rmah tangga dalam satu bulan? (2) Apa tiga keinginan yang akan dicapai alam waktu dekat? Tulis jawaban masing-masing dalam sebuah kertas, lalu samakan jawaban.

Kalau kedua jawaban sama atau paling tidak mendekati, artinya Anda dan suami sudah memiliki visi misis yang sama dan  jelas tentang keuangan keluarga. Nah, buat yang belum, mari kroscek bersama. Pahamilah kebutuhan dasar rumah tangga Anda anatara suami dan isteri. Untuk mengetahui kebutuhan dasar, ya tentukan prioritas. Mana kebutuhan saat ini (jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan) dan mana kebutuhan akan datang (kebutuhan di atas 12 bulan ke depan).

Anda juga harus pintar memilah, mana sejumlah item yang butuh dan mau. Tahu 'kan ya perbedaan butuh dan mau? Sesuatu yang dibutkan menyangkut urgensi (kepentingan), kalau tidak segera dilaksanakan akan berdampak pada kesehatan keuangan keluarga. Contohnya pelunasan utang, pemenuhan kebutuhan pokok rumah tangga, zakat. Di lain pihak, keinginan itu lebih kepada ego. Gaya hidup bisa masuk dalam list keinginan. Anda bisa mengerem gaya hidup yang terlalu boros jika memang kondisi keuangan tidak mendukung.

"Gaji tidak berhubungan dengan kekayaan, tapi gaya hidup" -Prita Ghozie (financial educator)

Nah, ingat kuotasi di atas. Seseorang bisa hidup dengan gaji kecil sekalipun untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, begitu penghasilan bertambah, seakan-akan pengeluaran tidak akan pernah cukup. Barang kali gaya hidupmu perlu diperbaiki. Ingat tujuh prioritas alokasi keuangan ala Proia Ghozie:

  1. Zakat 
  2. Pinjaman
  3. Tabungan dan investasi masa depan
  4. persipana untuk masa sulit
  5. biaya hidup
  6. anak dan pendidikan
  7. gaya hidup
Mengelola Arus Kas

Kalau sudah menentukan prioritas, sudah lebih mudah deh bagi kita untuk menentukan arus kas yang masuk dan keluar. Masih ingat dengan persentase alookasi penghasilan? Yup, gunakan persentase tersebut agar keuanganmu maksimal. Kalau lupa, saya iingatkan kembali untuk apa saja penghasilan yang kita dapatkan itu.

Alokasi dana ideal untuk gaji bulanan.

Anda boleh tidak saklek menggunakan persentase ini selama semua kebutuhan tercukupi. Ya dong, jangan sampai Anda mengutang untuk kebuthan sehari-hari. Di saat Anda punya cicilan utang yang jumlahnya agak besar, persentase gaya hidup boleh banget lho dikurangi. Ingat, dahulukan kewajiban, ya!

Ngomongin soal utang, Prita Ghozie menyinggung tentang  future spending. Kita harus cermat menilai manfaat dan masa pakai suatu barang. Prita menyarankan untuk menggunakan sistem "tabung dulu, beli kemudian" untuk barang yang masa pakainya sebentar. Misal, Anda tipe orang yang suka gonta-ganti gadget. Berlakukan nabung dulu, beli kemudian pada keuangan Anda. Kalau Anda gunakan "belu dulu, nabung kemudian", rusaklah sistem keuangan Anda sebab masa pakai sudah habis, cicilan masih jalan. Artinya, barang tersebut tidak emnambah manfaat, hanya menmabah beban keuangan. Prita membolehkan "beli dulu, nabung kemudian" bila masa pakai barang lebih panjang dibanding biaya cicilan.

Untuk mempermudah pengelolaan arus kas, Prita menyarankan untuk membagi rekening menjadi (paling tidak) tiga bagian:
  1. Rekening untuk biaya bulanan (ambil uang bulanan setiap minggu di ATM)
  2. Rekening untuk dana darutat (tidak bisa diambil atau tidak ada ATM-nya)
  3. Tabungan dan investasi (bisa diambil untuk jangka waktu tertentu)

Meraih Mimpi

Ini saatnya bagi Anda meraih mimpi. Sudah tentukan cita-cita, tentukan prioritas, pengaturan arus kas, saatnya Anda meraih mimpi. Secara sistemik, ada lima tahapan untuk meraih mimpi yang disampaikan dalam bagan berikut.

Tahapan meraih mimpi dalam perencanaan keuangan.
Tentukanlah tujuan keuangan Anda. Mengetahui tujuan perencanaan keuangan bisa mempermudah kita untuk mengambi langkah. Misalnya, kita ingin mrmiliki rumah dalam berapa tahun ke depan. Lalu, dari manakah sumber keuangannya. Nah, selama kita belum memiliki rumah, kita harus stick to it (pakem atau patuh) terhadap sistem keuangan yang sudah kita buat. Dengan patuh, pencpaian tujuan akan cepat tercapat. 

Penentuan tujuan keuangan ini bisa berubah-ubah sewaktu-waktu, bergantung pada kebutuhan seperti tiba-tiba hamil yang tidak direncakan. Tidak mengpa. Paling tidak, cikal-bakal alokasi dana sudah ada. Ke depan, Anda bisa mengutak-atik lagi persentase alokasi dana penghasilan yang tertera di atas hingga semua kebutuhan tercapau.

Tentukan Anggaran Bulanan dan Musiman

Pada saat Idul Adha kemarin, pembelian kurban digunakan dari dana mana hayo? Pos bulanan atau musiman? Kalau Anda menggunakan pos penghasilan bulanan untuk membeli kurban, sungguhlah tidak tepat. Mengapa? Habis gaji Anda sebulan untuk membeli hewan kurban. Karena lebaran idul Adha datangnya setahun sekali, gunakan pos musiman untuk pengeluaran ini. Pos musiman bisa didapat dari THR, bonus, komisi. Pokoknya segala oenghasilan di luar kebiasaan.

Pahamilah mana pengeluaran bulanan dan mana pengeluaran musiman. Pengeluaran bulanan termasuk pada pengeluaran rutin, seperti belanja makan harian, jajan anak, bayar SPP, listrik, cicilan utang, keamanan dan kebersihan lingkungan rumah. Sementara itu, pengeluaran musiman meliputi hadiah THR, pembelian hewan kurban, perayaan ulang tahun anak, juga liburan.

Yup, itulah empat langkah membuat anggaran belanja rumah supaya tidak bocor. Masih bocor juga? Mari ikat kepala dan lakukan langkah berikut untuk lebih jelasnya!
  1. Buatlah rencana pengeluaran
  2. Terima gaji
  3. Membagi sesuai dengan pos rekening
  4. Bayar cicilan
  5. Bayar tagihan-tagihan bulanan
  6. Transfer otomatis ke rekening dana darurat
  7. Transfer otomatis ke rekening investasi
  8. Ambil uang tunai perminggu di ATM
  9. Mengisi uang elektronik
  10. Hiburan-hiburan
"Teori sih mudah, praktiknya yang susah!", gitu kata kebanyakan orang. Hhhm, kalau tidak dimulai dengan niat dan optimis, ya mana bisa atulah. Alah bisa karena biasa. Saya berterima kasih kepada Visa, Ibu Berbagi Bijak, dan The Urban Mama untuk menyertakan saya dalam kegiatan ini. 

Awalnya saya juga hanya memiliki sistem keuangan bulanan sederhana. Menggunakan amplop sesuai pengeluaran dan belum ada dana darurat. Akan tetapi, begitu mengikuti kelas ini, saya tersadar bolong-bolongnya dari kas. Dua bulan berhasil. Saya optimis untuk bulan berikutnya. Untuk masa depan keluarga yang lebih baik, ye kaaan!

3 komentar:

  1. wah bermanfaat sekali nih mbak,,,mengingat saya suka bocor setiap bulannya.

    dan memang zakat harus kita singsingkan 5 %,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes.. untuk zakat kalau lebih si lebih bagus, mas. hehehe
      yang penting tercukupi semua kebutuhan :)

      Hapus
  2. Saya kalau urusan menentukan anggaran udah diurusin ma suami. Pusing deh ngurusin anggaran :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)