Kamis, Agustus 03, 2017

Cek Kesehatan Keuanganmu dengan Financial Check Up!

Assalaamu'alaikum...

Alhadmulillah awal bulan sudah datang, yah buibu. Dompet emak kembali tebal. Wkwkwkw.
Btw, mumpung baru terima gaji nih, sudah berapa persen dari pendapatan yang dihabiskan? Hayo, ngaku! Bayar cicilan, SPP sekolah, listrik, air, keamanan, sampah, arisan, belanja harian, jajan cantik, yaaa abis lagi aja uang emak. Ahahahaha...

Wretetett.. Jangan sampai, ya Mak! Baru seminggu gajian tapi sudah gigit jari akibat nggak pandai kelola keuangan. Saya juga nggap pinter amat kelola keuangan sebenernya, masih suka bocor di akhir bulan *ngaku* That's why saya ikutan acara "Visa Ibu Berbagi Biijak", Senin (24/7/2017) lalu di Attarine Cafe, Jakarta. Acaranya super manfaat! Materi dikasih langsung oleh financial educator, Prota Ghozie. Sini-sini, sama-sama belajar kelola keuangan sama aku yang disarikan dari acara tersebut.

PS: Tulisan ini akan panjang dan berat seperti membawa batako. Jadi siapin cemilan, ya :D

Cek Kesehatan Keuanganmu dengan Financial Check Up, Yuk!

Mengelola keuangan. Topik ini sebenarnya nggak cuman buat buiubu. Siapapun yang memegang keuangan, baik pribadi atau kelompok, yaa harus belajar mengelola keuangan supaya nggak bocor, bocor, bocoor! Karena saya sebagai ibu, manajer keuangan di rumah, harus pinter atur duit untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Kenyataannya, mengatur keuangan hingga mencapai ideal masih sulit buat saya. Saya pakai sistem amplop untuk mengatur pengeluaran. Investasi belum ada, hanya menabung dan menabung. Akan tetapi, karena saya hobi jajan makanan, yaa suka kedodoran lah jatah makan harian, yang berujung bablas pendapatannya alias minus :D

Yang saya alami ini sesuai banget dengan apa yang dijelasin sama Prita Ghozie. Ada empat masalah keuangan pada wanita: kebiasaan buruk, gaya hidup tinggi, utang yang banyak, dan inflasi. Kalau saya masuk punya kebiasaan buruk kali, ya. Sehari kalau nggak jajan, ada yang kurang :D Kalau kamu apa hayo? Problem terbesar hingga sulit mengatur keuangan.


Menurut Prita Ghozie, ada empat masalah keuangan: kebiasaan buruk, gaya hidup tinggi, utang yang banyak, dan inflasi. Kamu dominan yang mana?

Lebih wow lagi, ada lho penelitian yang mendukung pernyataan empat masalah finasial yang sering dialami wanita Indonesia. Saya lupa penelitian ini dilakukan oleh siapa. Akan tetapi, dalam acara tersebut disebutkan,

  • 50 persen wanita Indonesia tidak bisa membedakan mana tabungan, simpanan, investasi,
  • 18 persen wanita Indonesia hobi berhutang, dan
  • 32 persen wanita Indonesia memiliki gaya hidup tinggi.

Bener nggak tuh? WADAAAWW, wanita oh wanita Indonesia! Oleh karenanya, financial education penting banget nih di semua lapisan masyarakat. Wanita euy yang jadi tonggak lalu lintas keuangan keluarga. Kalau nggak melek literasi keuangan, rusak perekonomian.

Prita melanjutkan nih. Supaya keuangan terkendali, CEO ZAP Finance ini memberikan lima langkah untuk mencapai kondisi keuangan ideal.

Lima langkah kelola keuangan untuk mencapai kondisi idel oleh Prita Ghozie

Tuh 'kan poin awal adalah financial check up untuk mencapai keuangan ideal! Teori tinggallah teori. Lebih seringnya kita saya malas melakukan fiinancial check up. Kenapa? Biasanya sih karena zona nyaman. Hidup kalau udah merasa nyaman dan nggak suka tantangan, yaa bakal adem aja di situ. 

Contohnya saya. Saya belum ada investasi jenis apapun. Masih menabung, menabung, dan menabung. Saya beranggapan, dengan kondisi seperti ini, sejauh ini saya merasa cukup dan terkendali. Yowes. Aman. Padahal, untuk jangka panjang, sistem keuangan yang saya lakukan ini berbahaya, apalagi belum ada investasi apapun. *Saya bisa ngomong gini karena habis ikut kelas #IbuBerbagaiBijak aja*

Biar masih pagi, buibu semangat menuntut ilmu supaya nggak bocor melulu kasnya tiap bulan. Hehehe

Pun begitu dengan rencana keuangan. Bisa dibilang saya tidak punya rencana keuangan. Bagi saya, itu masih sekadar list. Saya sendiri bingung harus mulai dari mana. Ya sudah, saya jalankan saja sistem keuangan yang menurut saya sangat sederhana ini hingga usia pernikahan menginjak empat tahun.

Padahal yah dengan melakukan financial check up, kita bisa tahu bagaimana peringkat keuangan kita selama ini.

  • Tidak Sehat adalah kondisi dimana pengeluaran lebih besar daripada penghasilan. 
  • Sehat adalah kondisi dimana pengeluaran sama besarnya dengan penghasilan.  
  • Mandiri adalah kondisi dimana penghasilan lebih besar daripada pengeluaran.  
  • Sejahtera adalah kondisi dimana  penghasilan lebih besar daripada pengeluaran, dan juga adanya kepemilikan penghasilan pasif dari aset, tidak punya utang, serta kemampuan berderma.

"Kita harus kaya! Gimana mau kaya kalau sama utang aja masih ribet. Nggak bisa zakat juga sedekah", Prita Ghozie.


Tiga Perangkat Financial Check Up

Gimana caranya melakukan financial check up? Kita bisa, lho melakukannya sendiri tanpa harus ke financial planner. Ada tiga perangkat dalam melakukan financial check up, yuk disimak!
Tiga perangkat financial check up menurut Prita Ghozie
1. Membuat tabel kekayaan bersih

Gimana caranya? Mari kita data harta kekayaan kita, mulai dari aset juga utang (kewajiban).
Aset terdiri atas tiga bagian: aset kas (tabungan, deposito, reksadana pasar uang), aset inivestasi (bisa berupa ORI/sukuk ritel, logam mulia, reksa dana pendapatan tetap/campuran./saham, unit link, juga saham di perusahaan tertentu), dan aset konsumsi (rumah atau apartemen yang ditempati juga kendaraan).

Di lain pihak, utang (kewajiban) dibagi menjadi dua: pinjaman jangka pendek dan pinjaman jangka panjang. Masing-masing orang berbeda kebutuhannya. Jadi, coba didata dulu tanpa harus mencontek :p Setelah didata, akan diperoleh total kekayaan bersih.

Tabel kekayaan bersih merupakan total aset
dikurangi total kewajiban.

2. Mengisi Tabel Arus Kas

Ini nih yang saya biasa lakukan bulanan. Sewajibnya sih harian, ya. Kita buat daftar pemasukan dan pengeluaran setiap harinya. Pencatatan akan lebih mudah bila kita mengumpulkan setiap bon belanja, mutasi rekening, dan yang lainnya dengan bukti terkomputerisasi. Kalau belanja di kang sayur, ya catet manual ajyah di buku khusus.

Prita menambahkan, adapun pembagian arus kas masuk dan keluar dibagi menjadi rutin dan tidak rutin. Gaji yang diterima setiap bulan merupakan arus kas masuk yang rutin. Akan tetapi, THR, bonus, komisi, hadiah merupakan arus kas masuk tidak rutin. Uang kaget kalo bahasa kita mah, hihiihih.

Tabel pembagian arus kas

Di lain pihak, ada juga arus kas pengeluaran rutin, seperti belanja rumah tangga (belanja harian, uang keamnana, SPP, dasn sebagainya) juga cicilan pinjaman. Sedangkan arus kas pengeluaran tidak rutin meliputi biaya liburan, pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor.

Jadi, lanjut Prita, kalau kita mau liburan, jangan ambil uang dari arus kas masuk rutin. Liburan itu ibaratnya insidentil, termasuk arus kas pengeluaran tidak rutin. Oleh karenanya, kita harus menggunakan biaya liburan dari dana THR atau bonus. Pokoknya diambil dari arus masuk tidak rutin. Sama-sama tidak rutin. Kalau kita mengambil dari arus kas masuk rutin, ya berkuranglah jatah harian bualn itu karena dipakai liburan. Bisa-bisa minus pengeluaran karena berlibur.

3. Rasio-rasio Keuangan Dasar

Tahap selanjutnya adalah membuat daftar rasio-rasio dasar keuangan yang terdiri dari rasio dana darurat, rasio menabung, dan rasio berutang.

Rasio dana darurat menggambarkan besaran harta lancar yang tersedia untuk membayar biaya hidup sesuai standar hidup apabila terjadi penurunan penghasilan.  Apa sih manfaatnya bila kita mengalokasikan dana darurat? Kita bisa menggunakan dana darurat untuk:

  • biaya obat, biaya dokter, atau rumah sakit yang tidak bisa ditunda,
  • musibah seperti bencana alam, kemalingan, juga kematian,
  • terjadinya PHK secara mendadak,
  • kerusakan peralatan rumah tangga yang berat dan butuh biaya besar, seperti AC rusak, genteng roboh, kulkas rusak,
Idealnya, dalam setahun dana darurat mencapai minimal 3x pengeluaran rutin bulanan, dibuat terpisah dan tidak diutak-atik, dan luangkan tambahan bila ada kondisi spesial, seperti memiliki anak berkebutuhan khusus.


Rasio menabung menggambarkan porsi tabungan atau investasi kita dibandingkan dengan penghasilan.

Rasio berutang menggambarkan besaran utang dibandingkan dengan besaran penghasilan. Menggambarkan pula, apakah gaji yang kita terima selama ini hanya untuk membayar utang? Prita menjelaskan, kita boleh berutang ASAL utang produktif. Artinya, utang tersebut mampu memberikan:

  • memberikan nilai manfaat (nilai mnafaat harus lebih panjang dari nilai pembayaran cicilan), 
  • menambah penghasilan (dengan bantuan pinjaman, maka memiliki aset yang berpenghasilan), dan 
  • tetap memerhatikan suku bunga pinjaman (perbangingan suku bunga efektif, BUKA tertera atau flat).
Ilustrasi kartu kredit (sumber: okezone)

Tentang penggunaan kartu kredit, Prita menjelaskan hal itu boleh saja dilakukan selama bijak digunakan. Kartu kredit berfungsi sebagai pengganti uang tunai, bukan tambahan penghasilan. Jadi, ketika hendak beli apapun, model berpikirnya itu adalah uang konsumsi.

Selain itu, kata Prita, kartu kredit bisa memberi kemudahan transaksi di saat darurat. Pekerjaan Prita sebagai financial educator mengharuskan ia untuk bepergian ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Untuk memesan hotel, sereing kali kartu kredit dijadikan alat jaminan. "Daripada saya repot membawa uang dalam jumlah banyak, bila saya menginap di hotel dalm waktu yang cukup lama, saya pakai saja kartu kredit. Lebih simpel", terang ibu beranak dua ini.

Nah, setelah hitung-hitungan ketiga perangkat financial chck up, masukkan hasilnya dalam tabel ini. Apakah kamu masuk di kategori gawat darurat, pemula, atau suda tahap sehat ideal keuangannya?

Indikator  Financial Check Up

Itu dia penjelasan panjang kali lebar tentang financial check up. Semoga penjelasan saya di atas tercerahkan buat teman-teman yang akan melakukan financial check up atau paling tidak kita sama-sama belajar tentang literasi keuangan. Kita sama-sama belajar membenahi keuangan kita selama ini supaya tidak bocor halus melulu. NIAT, NIAT, HARUS DAN PASTI BISA!

Sebagai tambahan, untuk pemula nih ya, kata Prita, jika sudah mendapat gaji, langsung sisihkan untuk biaya rutin. Sisanya masukkan ke dalam investasi juga tabungan. Akan lebih mudah bila kita menggunakan fasilitas auto debet yang sudah dimiliki setiap bank. Auto debet ini sebagai uang simpanan yang tidak bisa kita utak-atik. Lebih baiknya lagi, langsung saja berinvestasi dengan reksa dana.

Seperti apa reksa dana itu? Semoga tulisan ini bisa berkelanjutan ya. Rencananya acara ini akan diadakan dalam tiga seri. Biar tulisan saya nyambung, mudah-mudahan dikash kesempatan untuk join lagi.

Yuk, mumpung masih awal bulan. Alokasikan keuangannya. Adapun ratio alokasi ideal bisa dilihat dari diagram di bawah ini.

Persentase alokasi dana ideal untuk penggunaan gaji bulanan.

Thanks Visa dan The Urban Mama yang sudah mengadakan acara ini. Visa sendiri, sebagai perusahaan kartu kredit ternama telah bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk menyebarluaskan ilmu literasi keuangan. Bagi Visa, keluarga Indonesia yang kuat dimulai dari ibu yang melek finansial. Yang mau belajar online atau kepengen tahu dulu, bisa klik www.practicalmoneyskills.co.id.

Wassalaam.


Foto bersama buibu yang hadir dalam acara "Visa, Ibu Berbagi Bijak" bersama financial educator, Prita Ghozie, Senin (24/7/2017) di Attarine Cafe, Jakarta. Aku di mana hayoooo :p *penting*


10 komentar:

  1. terimkash mbaa ilmunya ^^
    Semoga kesehatan keuangan kita bisa selalu diposisi
    Sejarhtera, Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. biar bisa sedekah lebih banyak yahhh

      Hapus
  2. wiii lengkap banget Nes, jadi makin semangat mau ngatur keuangan nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh trims kak zata buat undangannya, yahh

      Hapus
  3. Wah, lengkap bgt penjelasannya mbak. Jadi melek nih. Semoga aku pribadi lbh pandai mengatur keuangan spy keuangan keluarga jd lbh sehat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama.
      semoga ilmunya bermanfaat dan dipraktikkan. Yukmareeee!

      Hapus
  4. kelemahannya adalah tau ilmunya, suliit praktiknya.hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mwahahahaa..
      motivasi, ingat motivasi suapaya terus dipraktikkan :D

      Hapus
  5. Sebenarnya saya termasuk rajin dalam pengeluaran. Sejak gadis dulu, saya punya catatan belanja. Tetapi hingga kini kondisi keuangan masih belum sehat. Darurat malah. Semoga ke depannya bisa lebih tertata lagi. Makasih sharingnya Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak.
      mudah-mudahan setelah baca ini, bisa bebenah atur keuangannya yah. ini basic banget. kalau ada lagi, nanti saya bagi :D

      Hapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)