Rabu, Februari 10, 2016

Lika-liku Memberikan ASI

  3 comments    
Assalaamu'alaikum..

Sebagai new mom pasti pengen banget apa-apa yang serba sempurna dan ideal. Yaa lahir normal, urus anak sendiri, kasih ASI sampe 2 tahun. Akan tetapi, ada beberapa hal yang nggak semua orang bisa mendapatkannya. Kalaupun bisa tentu ada up and down-nya. Yaa namanya juga pengalaman pertama. Kok begini, kok begitu. Panikdotcom deh ujung2nya!

Kali ini saya mau cerita tentang pemberian ASI. Lebih tepatnya si lika-liku memberikan ASI. Ini versi saya loh, ya. Setiap orang punya pengalaman berbeda. Let's cekidot!

Ilustrasi menyusui (sumber gambar)

ASI Tidak Keluar di Hari Pertama Pasca Melahirkan
Yeah, ini umum banget. Banyak banget mommy yang ASI-nya tidak keluar di hari pertama pasca melahirkan  Apa kuncinya supaya bisa keluar? Selain doa, bayi terus ditetek-i setiap dua jam. Hisapan ASI dari mulut bayi langsung justru menjadi stimulus atau perangsang bagi hormon untuk memproduksi ASI.

Jadi, bayi baru lahir itu bisa loh puasa sampai tiga hari. Mereka punya cadangan makanan yang diperoleh dari perut ibunya saat dalam kandungan.  Tinggal si emaknya aja, tega apa nggak membiarkan si anak nangis karena ini juga itu. Kalau tega bin keukeuh, insyaa Alloh sebelum tiga hari ASI bakal keluar. Kalau yang nggak tega, BHAY ASI! Welcome sufor! ;)

sumber gambar: dinkes.cirebonkab.go.id

Selain ditetek-i langsung ke bayi, kita juga bisa mengompres payudara dengan air hangat. Tujuannya apalagi kalau bukan melancarkan saluran ASI. Anatomi payudara wanita terdiri dari duktus-duktus sebagai tempat ASI mengalir sebelum sampai ke puting (tempat keluar ASI). Nah, waktu di rumah sakit suster memmbantu saya untuk mengompres payudara. Lebih rileks aja si rasanya.

Tips lainnya, ada juga yang sudah mulai melakukan pijat sekaligus membersihkan payudara selagi hamil. Tak jarang ASI keluar lebih dulu sebelum melahirkan. Selama tidak bahaya alias menimbulkan kontraksi dini, yaa sah-sah aja. Saya sendiri tidak melakukan pijit payudara selama hamil disebabkan kontraksi dini.

ASI saya sendiri baru keluar di hari kedua pasca persalinan. Kuncinya, keep positive thinking. ASI saya akan keluar dan itu cukup untuk si bayi. Ya ampun pas saya urut payudara dan keluar susu itu rasanya legaaaaaa banget! Alhamdulillah saya bisa memberikan ASI untuk si bayi. Come to Mama, baby! :)

Puting Lecet
OH NO! It is a big no no! Sakit parah ini sampe ke dubur nahan sakitnya. Banyak orang mengatakan puting lecet (masitis) as a common thing too buat yang baru lahiran. Yaa karena puting biasanya anteng adem ayem, kali ini dihisap oleh si bayi. Puting pun mulai mekar dan lubang-lubang ASI baru terbuka.

Saya merasakan puting lecet sampai berminggu-minggu. Ini yang dibilang mama saya, "Kalau mau netekin, rasanya gak mau ngasih. Sakitnya ke bol-bol. Kita liatin aja 'tu bayi nangis. Tapi begitu (puting) sudah dihisap maaah nggak sakit lagi". Hhm begitu ya rasanya.

Posisi Menyusui yang Benar (sumber gambar)

Apa obatnya? Beberapa teman menyarankan salep berbagai merk dari dokter. Emang dasar saya males ke dokter, ya udah saya colek-colekin aja minyak bikinan (minyak letik aka. minyak kelapa). Selebihnya saat akan dan sesudah memberikan ASI, puting diolesi dulu sama ASI. Kata suster, itu obat paling manjur tanpa harus salep-salepan. Tetap menyusui ya, mommy!

Duh, ASI-ku Sedikit!
Percayalah, sedikit atau banyak itu hanya perasaan emaknya aja. Kunci sukses ASI semua ada di pikiran emaknya.

Saya beberapa kali sempat mengalami kepanikan, seolah-olah merasa ASI saya berkurang. Saya pun membuktikannya dengan memompa. Payudara juga tidak kenceng. Beberapa siang, si bayi nangis uring-uringan menarik-narik puting seolah-olah ASI-nya kurang. Akhirnya saya putuskan konsultasi laktasi.

Prinsip dasar ASI, ASI tidak perlu banyak, yang penting cukup untuk bayi. Ya, kekhawatiran yang saya rasakan akan jumlah ASI tampaknya mengikuti jumlah ASI yang keluar dan emosi bayi. Jumlah ASI sedikit dan bayi ikutan panik.

sumber gambar: aromaterapisehat.com

Sampai saat ini, si bayi masih suka tarik-tarik puting, tetapi saya selalu mengafirmasikan hal-hal positif pada diri saya dan bayi. Hasilnya, saya dan si bayi lebih tenang saat menyusui.

Saya katakan pada bayi, "Abang.. ASI Amam cukup untuk kamu. Nyusunya yang bagus, tidak uring-uringan gitu. Abang 'kan pinter nyusunya", and so and so..

Meski berprinsip ASI tak perlu banyak, menjaga pola makan, istirahat, dan pikiran tetap jadi kunci utama busui untuk keberhasilan ASI. Doain ya agar saya sukses memberikan ASI sampai dua tahun.

Jangan Lepas Puting Sebelum Dilepas Bayi
Ini juga jadi bahan diskusi saya dengan konsultan ASI di rumah sakit. Jadi, sebelum 40 hari bayi saya kerap kembung. Kata orang dulu si, bayi kembung maunya nyusu terus. Akan tetapi keadaan itu tidak bagus untuk perut bayi. Ada yang berpendapat, jangan ditetek-i terus, ditimang-timang aja. Lainnya, segera tiduri bayi saat diketahui dia ngentil. Ngentil juga tidak bagus.

Menurut dr. Lia, kita tidak akan pernah tahu kemauan bayi. Mungkin bayi masih ingin didekap ibunya sehingga dia ngentil. Kalau kita melepas puting sebelum dilepas sendiri, ada kemungkinan perasaan minder pada bayi. "Kok mamaku nggak mau dideketin aku. Aku 'kan masih ingin menyusui atau dekat ibuku", kata dr. Lia. Nah, bisa jadi juga gerakan bayi saya yang gelisah saat aliran ASI sedikit juga karena puting terbiasa dilepas sebelum waktunya.

Yang lebih penting lagi, masih dari perkataan dr. Lia, bisa jadi mengentilnya bayi sebagai rangsangan untuk produksi ASI kembali. Jadi ya pasrah aja udah mau beberapa lama si bayi netek :)

ASI, What Mom Eats is What Baby Gets
Ini sebenarnya masih percaya nggak percaya buat saya. Ya, apa yang saya konsumsi sangat berpengaruh ke bayi.

Sebelumnya saya kerap berpikir, apa yang dimakan si Ibu memang akan dirasakan juga oleh bayi. Akan tetapi, untuk masuk ke perut bayi tentu diolah terlebih dahulu okeh tubuh saya. Ya masa iya saya makan pedes, si bayi ikutan makan cabenya mentah-mentah, lalu jadi sakit perut? Well, begitilah kenyataannya.

Kalau kata orang dulu si, sebelum puput puser si Ibu melahirkan boleh makan apa saja. Nah, kalau udah puput pusar, busui harus mantang makanan, seperti makanan pedes, bersantan, kelapa, juga es. Ada juga yang bilang bumbu kacang.

Kasusnya ada pada anak saya. Sebelum 40 hari, saya mengonsumsi tempe orek yang pedes. Katanya, nggak apa makan dikit biar bayinya nggak kaget kalau suatu saat si emak makan makanan pedes. Ya udah, saya hajarlah tu si Tempe. Dijadiin lauk utama. Lalu, apa yang terjadi saudara-saudara?

Perut anakku mules! Alhamdulillah-nya dia nggak rewel malam harinya. Dia rewel pas siang. Kemudian, saya curhat ke dukun bayi juga tukang mandiin bayi. Begitu dipegang sama dia, perutnya panas seperti nyetrum gitu. Langsung deh ditampel. Saya lupa waktu itu nampelnya pake akar-akaran apa. Dia pun anteng dan pup normally.

Kalau sekarang, umUr anakku udah dua bulan. Dikit-dikit udah mulai ditarak pantangan-pantangan makanan. Perutnya udah lebih kuat tentunya ketimbang waktu baru lahir *yaiyalah*

Begitu lah yang saya alami selama memberikan ASI dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan. Doakan agar saya terus bisa memberikan ASI hingga usia dua tahun. Doakan juga biar anakku jadi anak yang sholeh, taat sama Alloh, berbakti kepada orangtua, dan bisa menjadi penyejuk hati kedua orangtuanya. Aamiin.

sumber gambar: tokopedia.com



3 komentar:

  1. Iya banget mbak. Saya anak pertama juga gitu. Tapi demi anak, gpp juga sih :) Pahalanya juga lebih besar

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak. Insyaa Alloh kalau dilakukan dg ikhlas jadi pahala, ya :)

      Hapus
  2. Kakak sedang menyusui... bolahlah ini dikasih baca sama kakak ^^

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)