Kamis, Januari 07, 2016

Riyadh, Our Special Gift in The End of 2015

Assalaamu'alaikum

This is gonna be my first story in 2016. Another first story about my birth experience and our lil fam. Alhamdulillah sehari setelah mempublikasikan kunjungan saya ke dokter di minggu ke-38, saya melahirkan si bayi lelaki ini. Doa pun terkabul. Iya, saya minta pada waktu itu agar menjadi kunjungan terakhir. Datang kembali, yaa buat launching si bayi.

Bayi itu kami beri nama Ahmad Riyadh Athoillah pada hari ke-7 pasca melahirkan. Ahmad dari Muhammad SAW, our beloved prophet. Riyadh means taman yang subur. Athoillah means karunia Alloh. Riyadh ini lahir di saat musim hujan. Jadi, harapan kami mudah-mudahan si anak bisa membawa keberkahan bagi banyak orang.

Ahahaha, banyak yang nanya si, "kok belum ada namanya?" Bagi kebanyakan orang, mempersiapkan nama adalah hal penting. Lah, kami? Hingga beberapa hari pasca melahirkan saja masih cari nama. Akhirnya nama tercipta di hari ketujuh berbarengan dengan aqiqah sang bayi pasca 7 hari kelahiran. Mengambil sunnahnya, kata suami saya. Riyadh lahir dengan BB 3,4 kilogram dan PB 48 sentimeter.

Baiklah, saya akan merinci pengalaman saya sesuai pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang kepada para new mom.

alhamdulillah telah lahir anak pertama kami.

Gimana rasanya melahirkan? Ini jadi pertanyaan yang sering banget dilontarkan buat new mom. Mau tau rasanya? Tak terdefinisikan! Seneng, bahagia, sakit, capek juga, tapi lebih banyak happy-nya. Di sini saya baru sadar banget mengapa surga ada di bawah telapak kaki Ibu. Luar biasa banget perjuangannya, sebelum apalagi sesudah melahirkan. Sisa-sisa melahirkan itu lohh yang terkadang bisa membuat trauma untuk melahirkan kembali. Akan tetapi, kata mereka yang berpengalaman, kapok sambel si. Nanti juga kepengen hamil lagi. Lol.

Lahirannya caesar apa normal? Alhamdulillah spontan partus alias normal. Lagi-lagi doa saya dan suami terkabul. Saya merasakan mules selama 30 jam. Tidak ada tanda-tanda flek, hanya mules yang kuat dan teratur saja per 10 menit sejak Minggu, 6 Desember 2015 pukul 01.00 WIB. Sempet halan-halan dulu sebelum melahirkan karena dikira sakit perut biasa. Maklum anak pertama yang belum tau curiganya.

Kata kakak ipar saya, kalau udah ngeflek, buru-buru ke RS. So, begitu suami ajak halan-halan, saya iyain aja. Siapa tau sakit perut ini bisa berkurang. Kami berdua pergi ke Informa, All Fresh, Ace Hardware dan dibuat sengaja naik turun tangga. Kalau saya berasa kesakitan, berenti dulu jalannya atau naik lift atau menunggu suami di lantai dasar.

Masih Minggu, 6 Desember 2015, pukul 14.00 saya di rumah mertua. Melihat saya yang nangis merintih kesakitan, mertua menyarankan untuk cek ke RS. Mau stay atau pulang lagi, yang penting udh dicek.

Pukul 15.00 tiba di RSIA Muhammadiyah. Dicek sama bidan baru pembukaan satu kedua, tetapi kontraksi sudah kuat tiap 10 menit. Sama dokter, saya disarankan stay di RS.

Terbilang lambat pergerakan tiap pembukaan memang. Mungkin karena anak pertama ya. Enam jam pasca cek pertama (21.30), baru pembukaan 4. Sejak saat itu, langsung masuk ruang bersalin dan bulak-balik kontraksi tiap 10 menit, 5 menit, hingga entah berapa menit sekali. Senin, 7 Desember 2015 pukul 5.16, saya melahirkan anak pertama.

Berapa jaitan? Nggak saya tanyain daripada saya stress sama jumlah jahitan. Sepertinya banyak banget karena proses menjahitnya lama dan dokter rada kesulitan menjahitnya.

Kata dokter, untung panggul saya besar jadi bisa melahirkan normal. Posisi anaknya terlentang, jadi dokter memutarerkali-kali dokter mengingatkan saya agar tidak mengangkat pantat dan menegangkan otot-otot di sekitar pantat mengingat kecilnya lubang yang harus dijahit. "Jahitannya banyak nih, Bu sampai ke anus", kata dokter memberi tahu.

ASI-nya banyak? Alhamdulillah banyak *positive thinking aja* Lagi-lagi terima kasih Alloh yang sudah mempermudah ASI saya untuk keluar dan menjadi makanan utama si bayi selama dua tahun ke depan. Mudah-mudahan dipermudah niatnya untuk full ASI.

Di hari pertama pasca melahirkan, ASI saya tidak keluar sama sekali. Sempet takut juga sih. Ada apa nggak ya ASI-nya. Namun para suster terus memberi saya semangat.

"Tenang, biasanya keluar hari kedua. Terus diisepin aja sama anaknya sambil belajar menyusui", ucap salah seorang perawat.

Yup, inilah cerita saya di bulan pertama kelahiran Riyadh, anak pertama kami yang hadir di usia pernikahan kami yang kedua. Riyadh-nya udah bisa ngapain aja? Tidur miring sendiri. Kalau minta susu, nangisnya langsung kejer nggak sabaran. Paling anteng ditengkurepin. Udah bisa angkat kepala. Seneng bangun jam 3 pagi. Mungkin efek hamil yang sering bangun jam 3 pagi?

Sekarang dia lagi mampet. Harusnya si pagi tadi mau imunisasi BCG. Terpaksa ditunda karena kondisi kesehatannya yang nggak fit.

Terima kasih atas doa teman-teman untuk kelancaran kehamilan fan persalinan saya. Semoga Alloh membalas segaka kebaikan teman-teman. Doain aku lagi ya teman-teman semoga bisa menjalankan amanah yang satu ini. Menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakku kelak dan bisa menghasilkan generasi qurani *berat amat ngomong nya, tapi yaa gitu deh cita2 saya*

4 komentar:

  1. BArakallah, selamat ya mbak sudah melahirkan. SEhat2 saelalu

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah dapat keluarga baru. :) Semoga jadi anak yang soleh. :)

    BalasHapus
  3. wah selamat ya mbak sudah melahirkan sehat terus

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)