Rabu, Agustus 05, 2015

Loyalitas BNI terhadap Pensiun, Mantan Supir BNI Sukses Menyekolahkan Anak hingga ke Perguruan Tinggi

  8 comments    
categories: ,
Assalaamu’alaikum...

Apa yang terbayang dalam benak Anda begitu mendengar kata bank? Tempat menabung, deposito, membantu pembayaran KPR rumah, atau ada yang lainnya? Bagi saya, sebuah bank tidak hanya sekadar tempat transaksi keuangan. Akan tetapi, dari sebuah bank-lah ayah saya berusaha menyekolahkan anaknya, yaitu saya, hingga lulus perguruan tinggi.

Saya bersama teman-teman seangkatan saat gladi resik wisuda sarjana Universitas Indonesia tahun 2010.

Sudah naluri bagi orangtua jika mereka akan melakukan apa saja agar anak-anak tetap sekolah. Pun begitu dengan orangtua saya, khususnya ayah. Saya bungsu dari 10 bersaudara, kelahiran 1988. Ayah tamatan SMP, sedangkan ibu tidak lulus SD. Ibu hanya seorang ibu rumah tangga, sedangkan ayah bekerja sebagai supir di Bank Negara Indonesia (BNI). Berbekal ijazah yang dimiliki, ayah bergabung di BNI sejak tahun 1966.

Karena usia yang sudah tidak muda lagi, ayah memutuskan untuk berhenti (pensiun) dari BNI pada tahun 1993. Secara otomatis, pada saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar (1994), ayah sudah tidak memiliki penghasilan tetap selain uang pensiun yang diberikan BNI kepada ayah setiap bulannya. Adapun usaha sampingan lainnya berupa ngobyek, menjadi perantara jual-beli mobil atau tanah, termasuk sewa rumah.

"Papah masuk BNI tahun 1966. Pensiun 1993. Awalnya di BNI Senayan terus ke Roa Malaka karena dipindahin”, tutur ayah saat menceritakan awal mula bekerja di BNI.

Saya pun selalu menuliskan pekerjaan ayah di setiap formulir identitas siswa sebagai pensiun BNI ‘46 (PS: angka '46 ini tidak boleh ketinggalan, lho!). Hahahaa.. Terkadang saya geli sendiri. Mungkin banyak orang yang mengira kalau ayah memiliki jabatan penting di BNI. Siapa yang tidak terkagum-kagum pada saat seorang anak menuliskan, pekerjaan ayah: pensiun BNI ‘46? Keren banget ‘kan! Padahal, jika ditelisik lebih lanjut, pekerjaan ayah sebagai seorang supir BNI.

Jujur, ini adalah sebuah apresiasi yang tinggi dari saya untuk BNI atas loyalitas mereka terhadap para pensiunnya. Ayah saya yang hanya seorang supir dan telah mengabdi selama 27 tahun diberi kesempatan oleh BNI untuk menerima dana pensiun dari Lembaga Keuangan Dana Pensiun BNI (DPLK BNI). Sewaktu masih SD, saya kerap ikut ayah ke BNI cabang Roa Malaka untuk mengambil dana pensiun dan silaturrahmi dengan kawan lamanya. Meski nominalnya tidak seberapa, tetapi saya melihat spirit ayah yang ingin membiayai anaknya untuk bersekolah hingga tingkat tinggi.

Melihat betapa kerasnya ayah menghidupi anaknya untuk tetap bersekolah, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya bekerja keras untuk bisa membuat ayah bangga. Alhamdulillah, dari sepuluh anak ayah, saya menjadi satu-satunya anak yang bisa kuliah di Universitas Indonesia (UI) melalui jalus masuk SPMB.

Saya bersama ayah saat wisuda sarjana Universitas Indonesia, Agustus 2010. 
Bukan biaya yang kecil memang untuk bisa menjadi bagian dari the yellow jacket, sebutan lain untuk UI. Meski demikian, ayah tidak pernah menggunakan surat tidak mampu untuk mendukung keberadaan saya di UI. Ayah lebih memilih mencicil biaya gedung begitu pertama kali saya belajar di UI.

Di UI pun saya tidak termasuk anak yang brilian, tetapi juga tidak termasuk mahasiswa yang tertinggal. Karena tidak mau terus-menerus menyusahkan ayah, saya mencoba melamar beasiswa dari Sumitomo Mitsui Bank 2007. Kebetulan persyaratannya tidak terlalu sulit, hanya prestasi akademik dan slip gaji orangtua.

Seumur hidup, saya baru itu meminta slip gaji (pensiun) orangtua. Siapa sangka, saya termasuk satu dari 20 anak di fakultas yang mendapat beasiswa SMBC berupa uang tunai yang diterima per semester selama satu tahun. Lalu, uang ini saya gunakan untuk keperluan harian kuliah. Alhamdulillah perjalanan kuliah saya terbilang lancar. Tahun 2010 saya dinyatakan lulus dari program sarjana Universitas Indonesia.

Lima tahun berlalu dari seremoni kelulusan sarjana Universitas Indonesia, nama BNI tidak akan pernah saya lupakan karena begitu kentalnya keterkaitan kehidupan sekolah saya, pekerjaan ayah, juga kehidupan keluarga besar pada umumnya. BNI juga menjadi bank pertama tempat saya menabung (pada saat kuliah) karena pajak bulanannya yang paling murah dibandiingkan bank milik negara lainnya.

Tahun ini BNI menginjak usia ke-69. Tagline "69 Tahun BNI Berprestasi dan Berbagi untuk Negeri" bukanlah omong kosong belaka. Banyak program Corporate Social Responsibility (CSR) dan layanan perbankan BNI yang memudahkan dan menguntungkan masyarakat dan nasabah. Akan tetapi, loyalitas BNI terhadap para pensiunnya (meski hanya seorang supir) itulah yang begitu terasa dalam kehidupan saya.

Sungguh bukan usia yang muda lagi untuk sebuah bank bisa bertahan melewati berbagai gelombang ekonomi di Indonesia. Puji syukur BNI pun semakin berkembang dengan membentuk bank syariah. Saat ini saya bersama suami menggunakan BNI Syariah untuk menghimpun pundi-pundi agar bisa ke Tanah Suci. Kenapa pilih BNI Syariah? Karena kantor cabang pembantunya dekat dengan rumah, bebas biaya pengelolaan rekening bulanan, dan bebas biaya penutupan rekening (khusus tabungan rupiah). Doaian yaa semoga lancar cita-cita kami untuk pergi ke Baitulloh, aamiin :)

Cikal bakal yang akan mengantarkan saya dan suami pergi ke Tanah Suci, Aamiin.


Mau tahu info lainnya tentang BNI? Buka aja situs BNI atau ikuti Facebook Fanpage BNI dan akun Twitter-nya.


8 komentar:

  1. Hebat, Mba.
    BNI 46 (jgn lupa angkanya) memperhatikan pensiunan banget ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Meski cuman supir, tapi alhamdulillah masih kebagian uang pensiun juga dan efeknya besarrrrr sekaleh!

      Hapus
  2. pengen jalan jalan dulu and salam kenal mbak, smg sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims sudah mampir di "rumah" saya.
      Smg sukses juga sll menyertai mas Soleh :)

      Hapus
  3. aku juga mau buka tabungan haji buat bapak mamah dulu, buka di BNI aja ya sekalian, kemarin taplus anak dari BNI juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaa hebat. insyaa Alloh dimudahkan sama Alloh ya maak.
      Aku juga niatnya kalau puunya anak mau buka tabungan di BNI. Menabung sejak dini :D

      Hapus
  4. Pasti Ayah bangga sama Mbak Nisa :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)