Selasa, Februari 03, 2015

Tips Menjadi Enterpreneur Sukses ala Yoris Sebastian

Assalaamu'alaikum...

"Enterpreneur", kayaknya lagi laris banget ya kata ini. Gabungan dua kata lainnya ada yang menghasilkan edupreneur, creativepreneur atau blogerpreneur. Sebenarnya intinya sama aja, yaitu sebutan bagi seseorang yang mahir melahirkan suatu usaha baru. Pebisnislah gampangnya kalau disebut dalam bahasa kita. Nah, di postingan kali ini saya akan fokus kepada bahasan enterpreneur. Bagaimana sih menjadi enterpreneur yang sukses? Simak tipsnya dari Yoris Sebastian.

Who am I

Ini penting banget sebagai langkah paling awal dalam menentukan jenis bisnis yang akan dijalankan. Mulailah segalanya dari sesuatu yang Anda senangi. Biasanya, kalau senang dengan suatu hal, Anda akan menjalankannya dengan perasaan senang juga. Punya hobi yang bisa dibisniskan, siapa sih yang nggak suka? Ya 'kan?

Oleh karena itu, dalam sesi sharing enam bloger bersama Yoris Sebastian, Rabu (28/1/2015) lalu di Urban Kitchen, Pacific Place, Yoris meminta para patisipan untuk mengenali diri masing-masing terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memulai bisnis. Kenali potensi dan ketertarikan yang Anda miliki.

Selain sharing ilmu yang dimilikinya, bagi Yoris, kumpul-kumpul dengan orang baru termasuk cara dia belajar.
"Yang pertama, who am I?", jawab Yoris saat ditanya kunci sukses menjadi enterpreneur.

Yoris bercerita, pria lulusan SMA Pangudi Luhur ini sangat mencintai dunia musik. Kegemarannya terhadap dunia musik mengantarkannya menjadi pegawai magang di Majalah HAI. Lepas dari Majalah HAI, Yoris bergabung dengan Hard Rock Cafe Jakarta. Pada usia 26 tahun, berkat berpikir kreatif ala Yoris Sebastian, ayah satu anak ini menduduki posisi general manager. Sebuah posisi yang sangat tinggi di usia rerata anak muda Indonesia.

Yoris mengakui, dirinya bukan dari golongan manusia dengan IQ yang tinggi. Cinta dengan musik membuatnya takjub bisa mengetahui sejarah berdirinya Hard Rock Cafe hingga mendapat nilai 100 pada saat tes. Padahal, semasa di bangku sekolah, nilai 100 tidak pernah diraih oleh founder dan creative thinker OMG Consulting saat matapelajaran Sejarah. Wogh! Seperti pribahasa, ya. "Do what you love and you will love what you do".

Listing dan Tidak Ngoyo

Kedua, membuat daftar tentang bisnis yang ingin Anda miliki. Lahan bisnis apapun yang menurut Anda itu "gue banget", ditulis saja dulu. Mengenai tercapai atau tidak, itu urusan belakangan. Pada saat ditulis, jangan lupa lihat kapabilitasnya juga konsep yang akan dibuat. Biar bagaimaan pun strong concept is a must in bussiness.

Kira-kira akan sukses tidak ya jika Anda mengembangkan usaha tersebut saat ini? Lalu bagaimana dengan usaha Anda tiga tahun ke depan? Apakah semakin sukses atau runyam? Atau justeru usaha yang Anda tulis ini baru akan sukses jika dirintis beberapa tahun lagi, dengan memerhatikan track record Anda dari sekarang? Mungkin saja.

Tahukan Anda, selain sebagai creative thinker di perusahaan yang dipimpinnya, kini Yoris juga telah memiliki hotel. Hotel ini merupakah salah satu item yang berada di list cita-cita Yoris belasan tahun yang lalu. See? Anything can happens for a reason. Just write it up!

Yoris selalu mencatat setiap ide maupun impian yang diinginkannya di smartphone. Tidak masalah jika ide atau impiannya itu tidak segera terealisasi (sumber: vebidoo.com)
Dengan track record yang telah diukir, sebenarnya Yoris bisa memulai kapan saja untuk pembuatan hotel ini. Namun, lagi-lagi Yoris tidak ngoyo ataupun terobsesi. Yoris mengutamakan idealisme. Dia ingin memberikan sentuhan yang berbeda atas hotel impiannya.

Sembari mengumpulkan dana, Yoris mencatat setiap detail yang ingin dihadirkan di hotel impian. Setiap pergi, ia selalu membawa smartphone BlackBerry-nya untuk mencatat ide-ide kreatif yang kerap muncul begitu saja.

Pada akhirnya, meski termasuk hotel budget, pengunjung bisa merasakan hal berbeda di hotel milik Yoris yang terletak di kawasan Seminyak, Bali. Experience is everything. Siapa tahu mereka akan kembali ke hotel miliknya saat berkunjung ke Bali lagi. 

Bikin Bisnis yang Susah Ruginya

Tips sukses menjadi enterpreneur selanjutnya, buatlah bisnis yang susah rugi. Secara prinsip, Yoris lebih senang berbisnis dengan azas happynomic: dilakukan dengan happy (senang), bernilai ekonomi, dan secara nature bisa dibayar mahal.

Dengan prinsip ini pula, selain sebagai pengusaha, Yoris juga mantap memilih menjadi motivator, khususnya untuk kalangan pengusaha atau perusahaan. Mengapa menjadi motivator? Yoris senang mengajar. Meski demikian, Yoris berpikir kembali, bagaimana caranya agar ia bisa mengajar, tetapi tidak menjadi guru sebab ia masih memiliki tanggung jawab besar terhadap perusahaannya? Menjadi motivatorlah jawabnya. Dengan menjadi motivator, Yoris bisa memberi sekaligus mendapat ilmu.

Lantas, mengapa kalangan perusahaan atau pengusaha yang dipilihnya? Sebab itulah yang terlihat lebih cepat hasilnya, baik dari sisi personal Yoris juga partisipan yang hadir dalam seminar bersama Yoris.

Cari bisnis yang susah ruginya biar cepet balik modal, gitu kata Yoris. Hihihiii :D
Tetapkan Tenggat Waktu

Kapan ukuran yang pas untuk mengukur keberhasilan bisnis Anda? Menurut Yoris, tiga tahun. Jika selama tiga tahun Anda menjalankan bisnis tersebut dan tidak meraih profit, sebaiknya tutup saja. Jika selama tiga tahun pula menjalankan bisnis, tetapi tidak untung juga rugi, sebaiknya tuutp pula. Kalau selama tiga tahun Anda menjalankan bisnis dan selalu meraih untung, maka ... Yang ini nggak usah diajarin kali ya jawabnya. Hehehe...

Fase satu tahun, menurut Yoris, dianggap fase belajar. Anda masih meraba-raba dengan bisnis yang dijalankan. Bagaimana konsep pemasaran yang baik, mendatangkan barangnya, juga engagement dengan pembeli. Jika dalam fase satu tahun ini sudah berhenti, rasanya terlalu singkat.

Kemudian, fase tahun berikutnya (2-3 tahun), menurut Yoris, Anda sebagai pelaku bisnis sudah mulai tahu celah-celah bisnis yang dijalankan. Usaha perbaikan pun mulai dilakukan. Perkembangan dari perbaikan-perbaikan ini akan mengikuti dan menuntun Anda, apakah bisnis ini baik untuk dilanjutkan atau tidak.

Di Mana Profit Berada?

Menurut Yoris, profit pasti dibutuhkan dalam bisnis. Akan tetapi, janganlah Anda menghamba terhadap profit, sehingga mematikan kreatifitas demi nafsu laba yang ingin diraih. Dalam menjalankan bisnis bidang konsultan brand seperti yang saat ini dilakukan Yoris, tidaklah semudah yang dibayangkan oleh orang-orang. Perusahaanya kerap menanggung rugi atas event yang sudah terlaksana. Namun demikian, menurut Yoris, itu dilakukan untuk investasi relasi jangka panjang.

Yoris bercerita, pernah suatu kesempatan, Yoris mengundang salah seorang penulis sebagai pembicara di Jakartaa. Kondisinya, si penulis sudah terbang dari Yogyakarta sesuai jadwal penerbangan pesawat terbang. Akan tetapi, karena terdapat kerusakan, pesawat yang ditumpangi penulis terpaksa kembali ke landasan. Penerbangan pun ditunda.

Profit penting dalam bisnis, tapi bukan berarti harus mendewakan keuntungan, bukan? (sumber: www.smartpassiveincome.com)


Karena keterlambatan pembicara, otomatis ada sesi kosong yang telah disediakan oleh partisipan. Pihak acara pada waktu itu berniat membatalkan kehadiran penulis dan tidak jadi mentransfer pembayaran. Akan tetapi Yoris mencegah. Menurutnya, posisi penulis sudah benar. Dia sudah berangkat sesuai jadwal penerbangan. Karena ada kerusakan tidak sengaja, penerbangan ditunda. Akhirnya pihak sponsor bersedia membayar 50 persen.

Di sinilah Yoris mengambil alih. Dalam kacamata Yoris, penulis yang diundang itu tetap harus dibayar penuh. Oleh karena itu, 50 persen lainnya bersedia ditanggung oleh OMG Consulting, perusahan naungan Yoris. Meski pada akhirnya OMG Consulting tidak jadi membayar, sebab ada pihak lain yang bersedia menanggung.

Kesalahpahaman dalam Berbisnis

Ada dua hal yang kurang benar jika diterapkan dalam berbisnis. Pertama, bisnis itu harus fokus. Kedua, bisnis harus bersusah-susah dahulu baru bersenang-senang kemudian.

Siapa bilang bisnis harus fokus? Tidak selalu, lho! Gunakan formula 70:20:10. Yoris mengambil contoh kasus Chef Afit, pendiri Holycow! Steakhouse. Sebelum sepenuhnya terjun ke dunia bisnis food and beverage, Chef Afit adalah seorang karyawan di RCTI. Pada saat bertukar pikiran dengan Yoris, Chef Afit mengutarakan niatnya untuk mundur dari RCTI dan serius menggarap Holycow! Steakhouse. Akan tetapi, hal itu dicegah oleh Yoris.

Biar bagaimana pun masih ada kehidupan yang harus dipenuhi tanggung jawabnya jika Chef Afit mengundurkan diri dari RCTI, yakni keluarga. Meskipun Chef Afit punya isteri yang juga seorang presenter, Lucy Wiryono.

Menurut Yoris, bisnis food and beverage adalah salah satu bisnis berisiko tinggi. Yoris meminta Chef Afit untuk memikirkan, bagaimana caranya jika selama enam bulan ke depan tidak ada pengunjung yang datang ke restoran Chef Afit, tetapi dapur rumah masih bisa ngebul dan restoran tetap buka.

Akhirnya Chef Afit bersama tiga orang kerabatnya secara gabungan menanamkan investasi untuk satu tahun ke depan di Holycow! Steakhouse. Chef Afit melebihkan waktu enam bulan ke depan dari yang diperkirakan Yoris. Sambil usaha jalan perlahan, Chef Afit tetap kerja di RCTI sebagai senior sales.

Chef Afit dan isteri (Lucy Wiryono) yang sukses dengan bisnus food and beverage-nya, Holycow! Steakhouse (sumber: KOMPAS/Wawan H Prabowo)
Chef Afit mengatur waktu, bagaimana sistemnya agar tugas dia sebagai karyawan terpenuhi dan hobi memasaknya juga dapat. Terbukalah jalan. Restoran Holycow! Steakhouse dibuka selepas jam pulang kantor. Jadi, pukul 16.00 Chef Afit pulang kerja, langsung memasak untuk Holycow! Steakhouse hingga tengah malam atau persediaan steak habis. Sekarang, sudah terlihat sendiri bagaimana bisnis Chef Afit. Setelah dirasa sudah stabil, dia pun resign dari RCTI.

Dari cerita Chef Afit bisa ditarik benang merah, ada pembagian rasio dalam bisnis, 70:20:10 versi Yoris Sebastian. Di awal merintis Holycow! Steakhouse, Chef Afit menggunakan rasio tersebut. Sebanyak 70 persen untuk RCTI, 20 persen Holycow! Steakhouse, dan 10 persen ide-ide lainnya Chef Afit. Pun begitu dengan Yoris, dia menaruh banyak waktu untuk OMG Consulting (70 persen), motivator (20 persen), dan membuat ide-ide gila (10 persen).

Keadaan berbeda bila Anda ingin membuka bisnis yang bidangnya sama dengan tempat di mana Anda bekerja. Tentu Anda harus fair dan memutuskan utnuk mengundurkan diri. Jika Chef Afit ingin membuka media baru, tandingan RCTI. Dia harus resign. Akan tetapi, rasio 70:20:10 tetap berlaku sebagai enterpreneur. Tetap harus ada sisakan waktu untuk membuat ide-ide kreatif lainnya.

Lalu, bagaimana dengan stigma "dalam membangun bisnis, orang kerap bersusah-susah dahulu baru bersenang-senang kemudian?" Pandangan itu juga tidak sepenuhnya benar. Bagi Yoris, berbisnis itu ya harus hapynomic, dari awal hingga akhir.

Enterpreneur kerap menargetkan hal-hal yang tinggi (seperti profit banyak) di awal meniti usaha, sehingga cara kerja mereka terforsir oleh target. Padahal, tidaklah demikian. Profit penting, tapi janganlah menghamba pada profit.

-----

Yup, itulah sesi sharing saya dann teman-teman bersama Yoris Sebastian. Banyak ilmu yang bisa dipetik selama iga jam bersamanya. Mudah-mudahan apa yang saya tuliskan ini bermanfaat buat banyak orang.

Tulisan sebelumnya: Berpikir Kreatif ala Yoris Sebastian





22 komentar:

  1. waahh makasih sharingnya mak. contoh kasus chef Afit ini nendang banget. Selama ini saya juga mikirnya kalau bisnis itu harus fokus. jadi suka mutusin kegiatan lamanya ditinggalin. padahal itu salah yaa :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaaa..
      Makannya siang itu langsung pada kaget, LAH KOK BEGITU? Tapi pas dikasih penjelasan, jadi tahu deh ;)

      Hapus
  2. wah keren banget ya Yoris ini. Thank you banget mak, lengkap banget penjelasannya. Aku bookmark ah biar gampang kalo mau baca lagi hehehe

    BalasHapus
  3. wah ilmunya mantap ini, makasih sudah berbagi mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak..
      Makasih yaa udah berkunjung ke marihhh

      Hapus
  4. 70:20:10
    Baru tau yg ini mak
    Makasih infonya ya, bermanfaat bgd. Ilmu nih ilmu

    BalasHapus
  5. Ihiyyyy lengkap banget :D
    Keren deh Mba.....berbagi ilmu bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks juga buat Mbak Ani atas link dan pertemuan ini.
      Jangan kapok, ya. Hehehe

      Hapus
  6. *noted. Penting bagi pebisnis pemula seperti saya. Makasih sharingnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan manfaat ya mbak.
      Terima kasih udah berkunjung :)

      Hapus
  7. Balasan
    1. Mudah-mudahan manfaat ya mbak/mas.
      Terima kasih udah berkunjung :)

      Hapus
  8. asik banget ya dapat ilmu dari bang Yoris :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah buat kesempatan ini.
      Moga manfaat buat banyak orang dengan ditullis laporannya kayak gini.

      Hapus
  9. Beruntung sekali Mak bisa sharing ilmu sama Mas Yoris ^^ Bermanfaat sekali. Aku save ya ^^

    BalasHapus
  10. tulisannya bagus, mudah dimengerti mba nisa, isinya bagus banget. benar kta yoris s bahwa bekerjalah sesuai dgn passion kita. pasti tdk akan pernah bosan. tuk mengetahui apa kesenangan saya, saya ikut banyak workshop. spt workshop jd pemandu wisata, menulis, memasak, dll sampe saya temukan bahwa hobi saya dibidang pendidikan. thanks sharingnya, meski ga ikut tp dpt ilmunya jg.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan manfaat ya Mbak.
      Sukses buat karirnya di bidang pendidikan. aamiin

      Hapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)