Minggu, Januari 11, 2015

Apakah Harga Tiket Pesawat Berpengaruh terhadap Keselamatan Penerbangan?

Pesawat Air Asia QZ8501 rute Surabaya–Singapura dinyatakan hilang kontak, Minggu (28/12/2014). Tiga hari kemudian, pesawat tersebut diketemukan di kawasan Selat Karimata, Kalimantan Tengah. Diketahui semua orang (155 penumpang dan 7 awak) tidak ada yang selamat.

Dari kecelakaan pesawat tersebut diketahui pula, penerbangan QZ8501 ilegal alias belum mendapat izin terbang. Biasanya rute penerbangan Surabaya–Singapura dilakukan pada hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu. Mungkin karena peak season, Air Asia menambah jadwal terbang.



Bagian ekor pesawat AirAsia QZ8501 di atas kapal Crest Onyx milik SKK Migas, di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Sabtu 910/1/2015) (sumber: kompas.com/Ihsanudin)
Tidak hanya itu, Air Asia juga diketahui tidak mengambil data cuaca dari BMKG terkait penerbangan QZ8501 rute Surabaya–Singapura ini. Saat sidak, Kemenhub mengetahui bila para pilot Air Asia tidak melakukan briefing cuaca bersama Flight Operation Officer (FOO). Pilot AA hanya mengunduh perkiraan cuaca dari BMKG. Mengetahui hal ini, Menteri Perhubungan RI, Ignasius Jonan marah besar kepada Air Asia Indonesia.

Efek dari bertubi-tubi masalah Air Asia Indonesia, Jonan mewajibkan semua perusahaan penerbangan Indonesia menggunakan sistem tradisional, briefing (tatap muka) perkiraan cuaca antara pilot dan Flight Operation Officer (FOO) sebelum terbang. Jonan juga menandatangani keputusan menteri untuk meniadakan tarif murah penerbangan pesawat terbang. Yup, tiket pesawat murah terancam TIDAK ADA lagi! Menhub melakukan pengaturan batas bawah yang rasional untuk setiap tarif tiket pesawt terbang, yaitu tak boleh di bawah 40% dari batas atas.

Jika memang dengan alasan Air Asia tidak melakukan briefing antara pilot dan FOO sebelum terbang, lalu Menteri Perhubungan Jonan Ignasius mengambil keputusan meniadakan tiket murah, saya pikir harus dikaji ulang keputusan ini. Keputusan ini terkesan lebay.

Menteri Perhubungan RI, Jonan Ignasius (dok. tempo.co)

Ada baiknya Menhub beserta jajarannya menelaah kondisi riil di lapangan. Pertama, tentang praktik pengambilan data cuaca. Jika benar yang dikatakan Dirut Air Asia, mengunduh data cuaca adalah hal biasa di dunia penerbangan internasional, mengapa Indonesia masih memberlakukan cara tradisional? Jika negara lain bisa, mengapa Indonesia tidak bisa jika itu lebih efektif? Kalau memang kurang efektif, kembalikan ke cara tradisional.

Kedua, mengapa Air Asia bisa "terbang" dari Surabaya ke Singapura di luar jadwal? Jujur, perihal ini saya tidak mengerti bagaimana teknis deal-nya suatu rute penerbangan. Logikanya, rencana ini tidak mungkin dilakukan secara cepat. Biasanya tiket murah itu dipesan jauh-jauh hari. Berarti, Air Asia sudah mengonfirmasi hal ini dari jauh-jauh hari juga ke pihak yang bersangkutan. Pertanyaannya, siapa yang memberi izin oenerbangan kepada Air Asia, Minggu (29/12/2014) tersebut?

Ketiga, apakah Menhub beserta jajarannya sudah meneliti atau survei, hubungan antara tiket pesawat murah dengan keselamatan penumpang? Apakah dengan murahnya tiket pesawat mengurangi bagian-bagian penting di pesawat yang bisa mengancam keselamatan penumpang? Di mana perbedaan antara tiket pesawat murah dan mahal?

Pengalaman Saya bersama Tiket Pesawat Murah

Sebagai pemburu tiket murah, saya nggak setuju banget! Berkat tiket murah, saya bisa traveling ke Malaysia (nol rupiah) dan Singapura. Saya juga menggunakan tiket murah untuk honeymoon rombongan ke Bali selama 4 hari 3 malam. Terakhir, saya mempersingkat perjalanan Jogja-Jakarta juga dengan tiket murah. Kebetulan ketiga perjalanan pesawat terbang itu bersama Air Asia.

Alhamdulillah-nya lagi, saya pergi dan pulang dengan selamat. Sewaktu ke Bali, salah satu maskapai penerbangan domestik mengalami kecelaan di Bandara Ngurah Rai. Pesawatnya tergelincir dan nyungsep di bibir pantai dekat Bandara Ngurah Rai. Pesawat yang saya naiki ditunda dulu pendaratannya. Akhirnya, kami sempat transit 30 menit di Bandara Internasional Lombok. Lalu, kembali ke Bandara Ngurah Rai dalam keadaan selamat.

Memori honeymoon rombongan ke Bali.
Penggunaan tiket pesawat murah ini juga saya rasakan betul saat bepergian dari Jogja-Jakarta, November 2014 lalu. Sebelum ke Jogja, kami sempat mampir ke Solo. Karena tiket pesawat tidak ada yang murah untuk budget dua orang, kami memilih kereta api kelas bisnis (Rp 390.000) sebagi moda transportasi. Untungnya perjalanan malam, sebagian besar waktunya dipakai tidur meskipun saya lebih banyak terbangun.

Benar, keretanya nyaman dan bersih. Namun, masalah kebersihan WC, tampaknya orang-orang Indonesia masih jorok, deh. Sebisa mungkin saya meminimalisir penggunaan WC umum di berbagai moda transportasi. Begitu sampai di stasiun, saya tanya abang tentang kondisi WC di kerta yang kami tumpangi. Dia pun menjawab dengan nada kecewa. Akhirnya selama delapan jam perjalanan, saya tidak pipis. Saat bepergian menggunakan pesawat juga saya belum pernah ke kamar kecil. Setidaknya, tidak terlalu lama menahan buang air kecilnya.

Sebelum berangkat bepergian, untungnya kakak saya sempat mencari-cari tiket murah in the last minute. Berjodohlah dengan Air Asia (lagi). Dengan harga (Rp 430.000) yang hampir sama, saya bisa menghemat waktu berjam-jam. Jadi, punya istirahat lebih banyak juga. Hemat uang juga waktu, kan?

Tiket Murah dan Kunjungan Wisata

Tidak bisa dipungkiri, berwisata di Indonesia masih tergolong mahal. Salah satunya akibat infrastruktur yang tidak memadai. Okelah kalau Indonesia ini negara kepulauan yang sangat luas. Dengan lokasi wisata yang terperosok memakan biaya yang sangat mahal. Meski demikian, bagaimana dengan tarif pesawat terbang di ibukota-ibukota Indonesia? Masih terbilang mahal juga, kan?

Coba tengok ibukota-ibukota yang berada di wilayah Indonesia bagian timur. Berapa rupiah yang harus Anda keluarkan untuk sekali jalan (pergi)? Belum lagi ditambah ongkos kepulangan. Ya masa pergi lalu nggak balik lagi? Wkwkwkw.. Pindah domisili namanya.

Mahalnya wisata di Indonesia ini semakin terasa saat saya membaca buku Trinity Round the World part 1. Di situ ia bercerita, jarang banget bertemu orang Indonesia saat ia menjejakkan kaki di benua Amerika bagian selatan. Jangankan di belahan Amerika Selatan, saat ke Papua pun Trinity jarang bertemu orang Indonesia yang sedang traveling.

Beberapa tahun belakangan ini, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga sedang gencar-gencarnya melakukan promosi wisata Indonesia. Bila tiket pesawat dalam negeri saja murah, bagaimana program Visit Indonesia mau berhasil? Kalau orang Indonesia-nya saja tidak mau berkunjung ke daerahnya sendiri, bagaimana wisata mancanegara?

Yaaa contoh lainnya lagi yang saya ceritakan di atas. Saya bisa ke Singapura dan Malaysia berkat tiket murah ini. Bukan tidak cinta Indonesia. Kenyataannya, tiket jalan-jalan ke luar negeri di banyak kesempatan jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia.

Memang ada rupa, ada harga. Dari yang saya lihat di salah satu sesi wawancara di TV One, secara pribadi pilot berpendapat, tidak ada perbedaan sistem keamanan dan keselamatan antara pesawat tiket murah dan mahal. Tiket pesawat bisa murah karena mereka menekan biaya-biaya operasional yang dirasa kurang perlu, seperti tidak ada makan gratis selama perjalanan.

Ya kan, kalau Anda naik Air Asia atau Lion Air (saya baru merasakan dua maskapai ini) pernah dikasih makan gratis? Pramugari membawa troli, menjajakan makanan ringan, tetapi penumpang harus membelinya jika ingin mengonsumsi. Bagi kebanyakan orang, menunda makan akibat penerbangan tidak masalah. Yang penting ongkos transportasi lebih murah karena ini menjadi bagian penting dalam bepergian.

Tentang keamanan, saya rasa sudah menjadi standar utama setiap perusahaan jasa pesawat terbang. Mana ada orang yang tidak mau selamat? Kru pesawat juga pasti maunya selamat 'kan dalam menjalankan tugasnya di manapun berada.

Ada baiknya Pak Jonan meninjau kembali keputusannya meskipun belum disahkan. Kalaupun Air Asia melanggar ketentuan penerbangan terkait briefing perkiraan cuaca, diberikan sanksi sudah cukup untuk menimbulkan efek jera. Kemenhub juga memperbaiki regulasinya, mencari letak kesalahan sehingga Air Asia bisa memiliki jam terbang ilegal.

Sementara itu, di linimasa beredar beragam meme terkait isu peniadaan tiket murah pesawat terbang. Orang Indonesia kreatifnya cepet banget, ya! Wkwkwkwkw...

Dialog sesama burung terkait izin terbang.

Briefing tatap muka pun sampe antre.

Sebelum diangkat menjadi Menteri Perhubungan, Jonan Ignasius menjabat sebagai Dirut PT KAI. Makannya, ada yang bikin meme "kereta juga bisa terbang sekarang", plesetan tagline Air Asia.

kereta api terbang


0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)