Rabu, Desember 10, 2014

Tips Mendapat Sponsor untuk "Traveling"

Hari gini, siapa yang nggak kenal dengan dunia traveling? Mau yang murah-meriah ala backpacker sampai kelas mahal untuk kalangan  jet set, semua bisa dilakoni. Jangankan ke luar negeri, di Indonesia sendiri ada jutaan destinasi wisata yang amat memesona.

Hhhm, saya tanya nih ya.. Kamu sudah pergi ke berapa tempat wisata di Indonesia? Heheeuu, kalau saya siih masih bisa dihitung sama tanganlaah destinasi yang pernah dikunjungi. Maklum, persoalan klise. Lagi-lagi kepentok sama budget. Bisa nggak ya setiap perjalanan saya dibiayai sama sponsor? Bisa ternyata! Bagaimana caranya? Yuk simak cerita saya berdasarkan sharing  yang saya ikuti bersama Mario Iroth, penggagas Wheel Story, di SCTV Tower, Selasa (18/11) silam.


Mario Iroth saat mengendari sepeda motornya ke Pulau Rote. (dok. Wheel Story)

Tahap PERTAMA yang dilakukan Mario saat ingin menawarkan perjalanannya ke pihak sponsor adalah persiapan. Sebagai seseorang yang ingin disponsori perjalanannya, tentu Anda harus melakukan persiapan dengan matang. 

Yang paling penting, siapakan kartu identitas. Ya, dong itu wajib! Kalau perjalanan ingin disponsori, apalagi ke luar negeri, sementara Anda belum memiliki paspor atau masa berlakunya habis, mana bisa dipercaya calon sponsor? Kartu identitas yang masih aktif juga memudahkan Anda saat berada di mana saja. Ingat, persiapan kartu identitas menunjukkan keseriusan Anda, lho. Hal yang sepele tapi sering terlupakan, ya :) 

Mario Iroth memperkenalkan dirinya di awal sesi pertemuan. (dok. pribadi)

Selanjutnya, Anda persiapkan tujuan perjalanan, misi perjalanan, budget, termasuk ittenerary (rundown perjalanan). Semua harus dijelaskan sejelas-jelasnya dalam proposal. Tujuan perjalanan >> ke mana tujuan perjalanan Anda? Misalnya tujuh kota di Pulau Jawa, sembilan negara di ASEAN, atau Indonesia bagian Timur. 

Akan lebih baik bila perjalanan yang dilakukan juga memiliki misi perjalanan, contohnya kebudayaan, pendidikan, atau kemanusiaan. Selanjutnya budget. Jelaskan saja berapa biaya yang Anda butuhkan selama perjalanan, mulai dari transportasi (termasuk bensin), akomodasi, makan/minum, penginapan, pulsa handphone dan modem internet, termasuk biaya-biaya tak terduga lainnya.  

Jelaskan secara rinci juga, bagaimana rute perjalanan Anda. Mulai dari titik awal hingga akhir perjalanan. Buat segamblang mungkin agar sponsor terbayang situasi perjalanan Anda.

Mario Iroth memberikan tips bagaimana mendapatkan sponsor untuk perjalanan kita. (dok. @Citizen6_)
Tahap KEDUA adalah dokumentasi (portofolio). "Bagaimana sponsor mau percaya dengan perjalanan yang kita ajukan kalau tidak ada dokumentasi?" tanya pria kelahiran 28 tahun silam kepada peserta sharing.

Semua dilalui Mario tidak secara instan. Selama enam tahun saat menjadi pegawai swasta, Mario kerap mendokumentasikan kisah perjalanannya melalui foto, video, juga tulisan. Foto yang dihasilkannya pun bukan foto fotografer profesional. Mario beraksi sambil belajar.

"Foto saja apa yang kalian lihat, lewati, juga penggambaran sekitar perjalanan. Nggak apa hasilnya miring-miring. Nanti sponsor bisa request (pesan) ke kita untuk angle foto yang diinginkan," jelas Mario.

Nah, dokumentasi ini juga berkaitan dengan pengemasan. Anda harus mengemas dokumentasi perjalanan dengan baik agar sponsor semakin tertarik. Akan lebih bagus lagi bila Anda mengambil tema tertentu dalam dokumentasi yang diajukan.

Salah satu foto Mario Iroth saat melakukan perjalanan ke Timor Leste. Selain sepeda motorrnya, landscape, interaksi dengan masyarakat jadi konsep pengemasan Mario Iroth terhadap dokumetasinya. (dok. Wheel Story)

Karena Mario senang motor, maka ia lebih menonjolkan bagaimana ia beraksi dengan motornya selama dalam perjalanan. Ia tonjolkan bagaimana medan yang pernah ia lewati dalam perjalanan. Apa pula yang sduah ia lakukan dalam perjalanan sesuai dengan misinya.

"Misal biker traveller. Kita bikin konsep foto safety riding agar sponsor helm atau dunia otomotif lainnya tertarik mensponsori kita," ujar Mario membongkar rahasia.

Yang tak kalah penting adalah media dokumentasi. Untuk apa dokumentasi disimpan sendiri, tanpa membiarkan orang lain tahu kalau Anda pernah berkunjung ke tempat A, B, C, dan seterusnya? Lagi-lagi, tonjolkan dokumetasi Anda! Zaman sekarang sudah ada internet yang meneydiakan situs gratis juga media sosial yang sangat mudah diakses. Pergunakanlah media-media tersebut dengan efektif. Semakin aktif menggunakan media sosial, semakin banyak teman atau pengikutnya, semakin banyak pula sponsor yang tertarik membiayai perjalanan Anda.

Tahap KETIGA, pikirkan keuntungan bagi sponsor. Apa yang didapat sponsor dengan membiayai perjalanan Anda? Hal itu bisa Anda kreasikan sendiri dan diskusikan dengan sponsor, misalnya sponsor mendapat "nama" melalui penyebutan (mention) dalam status Anda di media sosial. Anda juga bisa menempelkan logo sponsor di perlengkapan yang Anda bawa: tas, helm, body motor, atau situs pribadi. 

Jangan lupa, saat logo sponsor melekat bersama Anda, jagalah kepercayaan. Anda harus menjaga citra sponsor dengan tidak menampilkan/menyebutkan brand kompetitor, melakukan protes secara terang-terangan, atau posting hal-hal berbau SARA.

Para peserta fokus memerhatikan tips-tips mendapat sponsor "traveling" yang diberikan Mario Iroth. (dok. pribadi)

Tahap KEEMPAT, siapkan plan B. Jangan hanya terpaku pada satu rencana saja, persiapakan pla A, B, C, dan seterusnya bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Yup, Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan, apalagi daerah tersebut baru pertama kali Anda lalui.

Jangan ragu bila dalam perjalanan, Anda harus mengganti rute demi keselamatan. Mario bercerita, sewaktu perjalanan ke Papua, dia harus melewati medan berlumpur karena malam sebelumnya hujan turun denagn lebat. Karena tidak bisa dilewati oleh sepeda motor, akhirnya ia putuskan untuk mengganti rute. Setelah ada koneksi utnuk komunikasi, hal ini dibicarakan dengan sponsor. Sponsor pun memakluminya.

"Jangan ragu pula mengganti rute jika ada hal-hal yang tak terduga. Sponsor akan memaklumi kok. Yang penting kita selamat," kata pria bertubuh kurus dan berkulit putih.

Terakhir konsisten, kreatif, dan tetap tegar jadi kunci traveller. Konsisten update cerita perjalanan, kreatif dalam menyajikan cerita perjalanan, dan tidak cepat mengeluh saat menemui kesulitan selama perjalanan bisa menjadi nilai plus bagi sponsor agar semakin yakin dengan perjalanan kita.

Telepon genggam, kamera, laptop, dan modem jadi perlangkapan yang tidak boleh ketinggalan untuk para pengelana. Ini penting untuk update cerita ke klien juga para pembaca kita di dunia maya.

Mario Iroth menampilkan video perjalanannya yang super seru ke hadapan para peserta sharing. (dok. pribadi)

Mario Iroth dan Wheel Story

Kecintaannya pada dunia motor dan traveling membuat Mario Iroth mantap memutuskan berhenti dari rutinitasnya sebagai pegawai swasta, lalu beralih menjadi full time traveler. Menurut pria kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara ini, sudah cukup baginya mengenyam dunia perkantoran selama enam tahun sambil curi waktu memanfaatkan jatah cuti untuk traveling. Kini, ia menekuni hobi yang juga menjadi ladang penghasilannya, yakni jalan-jalan ke berbagai tempat bersama sepeda motornya tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun alias gratis!

Mario pun menggagas brand wheel story untuk setiap perjalanan yang diajukannya ke pihak sponsor. Konsep wheel story adalah seseorang (Mario Iroth) yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat menggunakan sepeda motor dengan misi kemanusiaan. Pada praktiknya, Mario dibantu oleh seorang partner perempuan yang membantunya di bidang dokumentasi.

Selama perjalanan, tak jarang, Mario memberikan bantuan kepada penduduk setempat yang memiliki keterbatasan ekonomi. Mario pun senang mengajar anak-anak demi memajukan pendidikan daerah yang disinggahinya.

Mario kerap bertemu dengan anak-anak dalam rute perjalanannya. Tak segan pula ia memberikan pendidikan kepada anak-anak di daerah. (dok. Wheel Story)

Hingga tahun 2014 ini, sudah ada dua projek Wheel Story yang dikerjakan Mario Iroth: menjelajah negara ASEAN dan timur Indonesia. Semua dilakoninya bersama sepeda motor kesayangan. Saat ini, Mario tengah mempersiapkan proyek ketiganya bersama Wheel Story di tahun 2016.

Karena banyaknya sponsor, setiap malam Mario harus mengirimkan update perjalanannya ke 18 sponsor. Semua dikiriminya satu per satu melalui email. Ya, ini bentuk tanggung jawab Mario kepada brand yang telah membiayai perjalanan. 

Komitmen! Mario menakankan hal ini kepada para peserta, "Jadi traveller harus komit dengan tujuan perjalanannya karena itu akan selalu menyangkut ke image si traveller di masa selanjutnya". 

Berkat komitmen yang dipegangnya pula, setiap perjalanan yang dilakukan Mario bersama temannya tidak pernah didominasi oleh klien atau sponsor. Bukan karena sombong. Mario juga pernah menolak bekerja sama dengan sponsor karena berseberangan dengan visi misinya.

Mario bersama cerita berkendaranya yang terangkum dalam brand "Wheel Story" sudah pernah mencapai Timor Leste. Bahkan, dia dianugerahi sebagai turis pertama yang mengelilingi Timor Leste dengan motro. (dok. Wheel Story)

"Tekankan kepada sponsor perihal anggaran juga rencana perjalananmu agar sama-sama enak bekerja sama dengan sponsor," tegas Mario. 

Oya, Mario juga memberikan bocoran tentang teknis pengajuan proposal. Anda bisa menghubungi bagian marcom dari suatu perusahaan. Katakan maksud dan tujuan Anda sambil menyerahkan proposal yang eye catching-simple-to the point

Jarak pengajuan ke aktivitas bergantung pada durasi perjalanan. Bila perjalanan yang Anda rencanakan memakan waktu berbulan-bulan, ajukan satu tahun sebelumnya. Biasanya menjelang akhir tahun. Namun, kalau durasi perjalanannya harian, ajukan ke sponsor enam bulan sebelumnya.

Berikan bonus kepada sponsor. Kalau dalam perjanjian, Anda diwajibkan setor 40 foto ke sponsor, boleh lho Anda memberikan 50 foto kepada meraka. Yaa bonus 10 foto kalau tahun depan perjalanannya dibiayain lahi, Anda nggak mungkin bisa nolak 'kan? Hihiiii.. Selanjutnya lakukan closing, temui pihak sponsor secara langsung. Ini semacam ucapan terima kasih kepada sponsor yang telah membiayai perjalanan Anda sekaligus penanda kontrak Anda dan sponsor berakhir.

Aktivitas Mario bersama Wheel Story dapat Anda cari tahu di situs Wheel Story.

"Jangan cuman percaya dengan 'katanya', 'katanya' aja. Lihat sendiri dan pergilah (traveling)!", kata mutiara dari Mario Iroth . (dok. pribadi)








26 komentar:

  1. Artikelnya informatif sekali mak Nisa.
    Thank you for sharing, salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiii mak Ratna yang sudah berkunjung..
      Salam kenal juga dari akyuuuu :)

      Hapus
  2. Seruu bgt dpt ilmu dr pakarnya lgsung gini. Makasiiih udh di share

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seruuuu banget dan bs tanya-tanya langsunggg, mak Nurul..

      Hapus
  3. Wah keren banget dan iya informatif banget.
    Salam kenal juga mak dan makasih sudah berbagi ilmu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak Maureen..
      Makasih yaa udah mampir ke blogku

      Hapus
  4. Waaah baru tau ternyata bisa dapat sponsor dari jalan-jalan.Nice info mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisaaaa banget ternyata, ya!
      Butuh konsisten lebih kayaknya nih, mak. hihihii

      Hapus
  5. Makasi mba lengkap sekali infonya :)

    Salam kenal dari sugihfenny.blogspot.com :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mbak Fenny.
      Terima kasih ya sudah berkunjung ke blog saya :)

      Hapus
  6. Balasan
    1. Bettuuull..
      Mario Iroth bukan public figure, tapi dia bisa ya, Mak *mupeng*

      Hapus
  7. Lengkap banget ulasannya Nisa :D
    Suka lihat gaya low profile nya Mario
    Terus pengalamannya seru bangett ampe diculik-culik segalaa wekekek

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama, maaak. orangnya santai, baik hati, dan tidak sombong.
      kalau dia bikin buku bisa lebih nge-hits lagi kayaknya ya.

      Hapus

  8. Menarik, mak.. Seru ya kalau travelling kita dibiayai trus :)
    Tapi tetaplah, membawa misi itulah yang paling diperhitungkan oleh klien :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satunya itu, mak ria.
      selebihnya teteup deh follower dan pembaca juga berperan :)

      Hapus
  9. Balasan
    1. iyyaaahh.. ternyata bukan cuman buat ngelamar kerja aja, ya.
      untung sekarang ada blog. jadi bagian portofolio hidup kita, mak :)

      Hapus
  10. kalau piknik itu emang baiknya banyak dokumentasinya ya mak, kayak foto sama video, selama ini aku enggak, jarang piknik juga sih aku, haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. di zaman narcis ini, minimal foto maaak biar eksiss. hihihihii..
      eits, jarang piknik bukan berarti ga bisa eksis. bikin edutoy sama anak di rumah juga bisa loh, mak didokumentasikan. douuble manfaat nanti kl disebar ke blog.

      Hapus
  11. Asyik bgt ya bisa menjalani hobby..dan dibayar pula...
    Skr fokus nyusun portofolio dlu deh...tak kenal maka tak syang..begitu katanya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuuuu momtravelerrrr..
      pasti ini udah jago kl soal traveling. udah ada label momtraveler ;)
      selamat menyusun portofolio, maaak. moga sukses! ;)

      Hapus
  12. Saya pernah neh mbak ikut ke sumbawa yg di sponsori salah satu perusahaan tambang :) kurang lebih caranya memang sama seperti penjabaran diatas

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaww.. udah praktik langsung si turiscantik.com.
      asik nih kl berbagi cerita. btw, langsung tembus kah proposalnya atau harus mengalami jatuh bangun dulu? *tsaaah jatuh bangun. kayak judul lagu dangdut. hihihhi..

      Hapus
  13. waah menarik n seru yaa...
    jalan2 gratis dibayarin pulaa....
    infonya lengkap bgt mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. jalan-jalan aja seru apalagi gratis yaa, maak ophi. Hihihii
      makasih ya maak sudah berkunjung ke blog kuu :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)