Rabu, November 12, 2014

Post Card from Kabul

Assalaamu'alaikum..

Kapan terakhir kali kamu berkirim surat? Pasti kebanyakan udah pada lupa. Hihihii.. saya sendiri paling ingat SD. Itu pun ketika saya menemukan tulisan tangan saya beberapa tahun lalu. Yaa di dalam surat itu tertulis cerita saya untuk abang yang lagi studi nun jauh di negeri seberang. Bahasanya make adinda gitu boooo'. Ajaran emak saya waktu itu. Hahaha..

Hare gene.. di jaman internet, SMS, telepon, WhatsApp, BBM, bahkan LINE yang telepon dan chatting gratis *bukaniklan*, masa iya masih mau pake kirim surat atau postcard yang datangnya bisa menghitung hari?

Alkisah suatu hari di wall Facebook saya, ada seorang warga negara Indonesia yang bekerja di PBB menawari teman-temannya, siapa yang mau dikirimin postcard dari Kabul? Ya udah, sebut aja namanya Kang Luigi Pralangga, salah seorang WNI yang menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB dan sedang bertugas di Kabul, Afghanistan.

Kemudian, isenglah saya tulis di komennya, minta dikirimin kartu pos. Pikir saya, jarang-jarang nih dapet kartu pos dari negara muslim yang sudah porak-poranda dan entah bagaimana nasibnya gegara serangan Amerika.

Aseli.. Saya iseng banget. Saya cuman sekali ketemu Kang Luigi waktu acara Kompasiana Nangkring di kantor Kompasiana. Lalu, sekali japri say hi as a new friend, selanjutnya saya cuman jadi silent reader Kang Luigi aja di Facebook juga post-post nya di grup FB Indonesian Peackeeper. Eehh ternyata postingan saya ikut di-follow up sama Kang Luigi. Saya dijapri olehnya, ditanyakan pula alamat tempat saya tinggal.

Sebulan berlalu..
Saya sendiri sudah rada lupa kalau Kang Luigi bakal mengirimkan kartu pos. Begitu saya mau masuk ke rumah kakak, ada kartu pos tergeletak di deket pintu belakang. Saya lihat. "Lah kok ada kartu pos bertampang Kang Luigi? Wahhh berarti ini kartu pos yang dia janjikan!" kata saya dalam hati. Dan benar sajaaaa.. Itu kartu pos yang dikirmin dari Kabul, Afghanistan! Wohooooww..

Setelah melewati daerah yang panas, gersang, berdebu, dan mungkin di dalam tanahnya masih ada dinamit-dinamit nonaktif, surat itu diberangkatkan. Yup, kantor pos Afghanistan masih berfungsi dengan baik ternyata. Dicek sama pria sorban berjenggot, lalu terbang bersama burung besi. Nyampelah ke rumah sayaaa..

Thanks yah, Kang Luigi atas postcard-nya. This is my very first postcard after a long long time agooo. Semoga Kang Luigi sehat selalu, selamat, sejahtera, dan tetap meng-Indonesia-kan penduduk di sana, ya :)

Kalau mau tahu sekilas tentang Kang Luigi, saya pernah menuliskannya secara singkat di sini.

Kartu pos dari Kang Luigi, lengkap dengan narsisnya. Hohohoo..

An invitation from Kabul, maneuver career at UN. Siapa mau?

Zzzz.. i dont know how to rotate this pic -___-" Padahal, nyimpennya udah secara landscape, tapi kenapa yang muncul versi potrait?

2 komentar:

  1. jadi ingat film korea my lovely samsoon yg diputar di rtv. si samsik suka kirim postcard ke samsoon setiap kali berkunjung ke kota atau hotel. romantis sekali hehe. gaya jadul tp malah menyentuh kan mak, apalagii dari kabul yg jarang2 orang berkunjung dibandinng singapore atau hongkong ... salam kenal ys

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya kirim surat ini romantis, mak. Temen saya juga suka kirmin postcard ke temennya (yang emang hobby kumpulin postcard) kalo lagi jalan-jalan ke LN. Tapi waktu itu saya masih ga kepikiran buat kumpulin postcard. Saya malah minta oleh2 gantungin kunci aja yang gambarnya khassss negara masing2. Lalu, saya kumpulkan sambil ngarep bisa pergi ke sana , wkwkkwkw.

      Trims yah mak udah berkunjung. Salam kenal juga mama isma yang cantikkkkk :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)