Minggu, September 21, 2014

Menuju Era Pembelajaran Digital, Ini Pesan Anis Baswedan untuk Guru Indonesia!

Di era web 2.0 saat ini, teknologi seperti tablet, smartphone, netbook, apalagi PC bukanlah hal baru lagi bagi sudara-saudara kita yang masih duduk di bangku sekolah. Tidak hanya untuk berkomunikasi dan bermain game, mereka bisa menemukan apa pun dalam gadget cukup dengan sekali sentuh atau klik, termasuk konten-konten yang dilarang di usia mereka.

Bagaimana dengan peran gadget di bidang pelajaran? Adik-adik kita ini bahkan bisa mengekplorasi berbagai pengetahuan di luar yang tertera pada buku teks pelajaran. Peran guru bukan lagi sebagai pendikte ilmu pengetahuan. Peran guru lebih kepada fasilitator sekaligus teman tempat murid bertanya dan bercerita. Lantas, sudah siapkah para guru Indonesia memasuki era pembelajaran digital?

Anies Rasyid Baswedan, Rektor Universitas Paramadina dan penggagas gerakan Indonesia Mengajar


Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina yang juga penggagas gerakan Indonesia Mengajar mengatakan, permasalahan di era menuju pembelajaran digital bukanlah pada murid, tapi siapkah para guru Indonesia menghadapi perubahan era digital ini?

"The issue is not our student. The issue is are we (teachers) ready for the changes?", tanya Anies saat membuka sesi presentasinya dalam Mini Seminar Pembelajaran Digital yang dilaksanakan oleh Grasindo dan Peson Edu, Rabu (17/9/2013), di Bentara Budaya Jakarta.

Sudah siapkah para guru terhadap perubahan metode pembelajaran di kelas, termasuk perubahan gaya interaksi dengan para murid? Sudah siapkah para guru untuk tidak menutup diri dan menanamkan nilai-nilai postif kepada murid-muridnya terhadap penggunaan gadget dan internet? Di sinilah tantangan era pembelajaran digital.

Dalam presentasinya, Anies menganalogikan perubahan ini pada perbedaan hasil jelajah dunia yang dilakukan bangsa Tiongkok (Ceng Ho) dan Eropa. "Keduanya sama-sama menjelajah, berkeliling dunia. Hanya saja, akibat dari penjelajahan tersebut, (bangsa) yang satu (Tiongkok) menutup diri, sedangkan lainnya (Eropa)  justru membuka dan mengeksplorasi dunia. Berada di manakah kita?" terang Anies.

Jika berbicara tentang pembelajaran digital, lanjut Anis, tentunya kita berbicara pada pendidikan untuk sekolah dengan kelas ekonomi mengengah ke atas, yang infrastrukturnya sudah siap. Jika diibaratkan bentuk piramida, posisi sekolah itu ada di paling atas atau tengah-tengah. Anies juga menyebut era pembelajaran digital ini dengan nama Project Gutenberg, suatu ikhtiar menggandakan ilmu pengetahuan dengan cara mengumpulkan buku-buku klasik dalam bentuk digital.

Anies bertutur, latar belakang dibentuknya gerakan Indonesia Mengajar agar setiap orang memiliki rasa bangga sebagai seorang guru. Tentunya hal ini turut didukung apabila setiap guru bisa menginspirasi para muridnya. Selepas murid lulus sekolah, tentunya para guru ingin diingat oleh murid-muridnya dalam puluhan tahun mendatang melalui kenangan yang baik.

Anies bercerita tentang keberhasilan seorang fisikawan muslim dari Pakistan yang juga peraih nobel fisika, Abdus Salam. Ketika Abdus Salam ditanya siapa yang menginspirasi dirinya selama ini? Ia menjawab, guru SD.

Melalui praktik percobaan IPA, sang guru membawa para murid ke lapangan sambil membawa kaca pembesar. Lalu, ia letakkan kaca pembesar itu di bawah terik matahari dan dialasi kertas putih. Tak lama, kertasnya terbakar.

Percobaannya sederhana dan biasa dilakukan oleh siapa pun, lanjut Anis. Namun, ada satu pesan dari guru Abdus Salam yang begitu membekas dalam memorinya hingga dewasa, yaitu jika kita fokus pada satu hal, kita bisa membakar dunia.

"If you focus on one thing, you can burn the world", kalimat motivasi yang diberikan guru SD dari seorang fisikawan Pakistan Abdus Salam . Kalimat ini begitu terkenang dan menginspirasinya hingga dewasa.

Sistem seperti ini jugalah yang diterapkan Anies melalui gerakannya dalam menyebar puluhan guru ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Dengan teknik yang sederhana, Anies menginginkan bisa memberikan efek yang sangat masiv kepada calon generasi Indonesia mendatang.

"Di Indonesia Mengajar ada yang namanya social accupuncture, trik-triknya sederhana, tapi efeknya massive, luar biasa," ujar pria yang lahir di Kuningan 45 tahun silam.

Lalu, bagaimana tips agar guru bisa menginspirasi? Anies memberikan empat tips agar para guru bisa menginspirasi murid-muridnya.

#1 Bebaskan diri (unlock your mind)
Buka pikiran Anda, biarkan nge-bland dengan para murid, biarkan nyambung dengan anak-anak. Anies mengaku, ia dan isteri sempat melarang anak-anak bermain game. Namun, lama-kelamaan peraturan ini tidak dijalankan. Ia membiarkan anak-anak bermain game dengan waktu yang dibatasi. Bahkan, ia ikut bermain game dengan anak-anak. Dari permainan itu, Anies mengajarkan anak-anak tentang sisi positif dari bermain game, mengatur strategi misalnya, Ceritakan saja! 

#2 Berinteraksilah dengan para murid.
Bagaimana cara kita bisa membebaskan diri? "Berinteraksilah dengan para murid sebab inspirasi hadir dengan interaksi," kata Anies memberi solusi.

Dengan beinteraksi, para guru bisa tahu bagaimana dunia para murid atau bisa j uga mengetahuisistem belajar yang diinginkan mereka,.

#3 Ambil hikmah di setiap kejadian yang ada
Anies menjelaskan ada perbedaan antara mengalami dan menjalani. Dengan mengalami, seseorang bisa memetik hikmah di dalamnya untuk dijadikan inspirasi.

"Menjalani, semua orang di ruangann (seminar) ini menjalani seminar. Namun, tidak semua orang di sini yang mengalami seminar. Mengalami artinya mengambil hikmah dari banyak kejadian. Hikmah bisa menjadi modal inspirasi," ucap Anies.

#4 Think different, think out of the box
Bagaimana cara mengasah pikiran agar kita bisa berpikir beda? "Bertanyalah kepada murid apa yang tidak lagi ditanya?" jawab Anies.

Contoh: Kenapa telinga manusia jumlahnya dua? Kenapa jumlah jari manusia ada lima? Mengapa mata manusia ada dua?

Menutup sesi presentasi, Anies bercerita tentang Harry Houdini, seorang ilusionis ternama asal Hungaria-Amerika. Suatu hari, seorang sherif menantang Houdini untuk menghilang dari salah satu kamar narapidana. FYI, penjara ini sangat ketat dan tidak mungkin ada kesempatan untuk kabur.

Ditunggu semenit, lima menit, hingga lima belas menit, Houdini tak juga keluar atau berpindah tempat. Akhirnya Houdini menyerah. Sementara sherif yang berada dengan Houdini di dalam sel dengan mudah pindah ke luar. Sang cherif cukup membuka pintu, lalu berpindahlah ia. Inilah yang disebut pikiran Houdini telah terkunci.

"Ini karena Houdini sudah dikunci pikirannya. Dalam pikirannya, ia harus mencari cara agar kunci bisa terbuka, bukan pintu yang terbuka. Padahal, pintu sel tidak dikunci sama sekali. Dan sherif bisa dengan mudah membuka pintu," tutur Anies mengakhiri sesi presentasinya.'

Pesona Edu, Grasindo, dan Intel Garap Buku Pelajaran Digital Bersama

Berbicara tentang gaya hidup generasi Z (kelahiran 1995 hingga sekarang) yang lebih mengandalkan teknologi, Grasindo dan Pesona Edu ingin memberikan banyak manfaat di bidang edukasi atas barang canggih ini. Mereka sedang menggarap produk unggulan baru berupa buku mata pelajaran digital yang interaktif. Intel sebagai perusahaan hardware ternama juga digandeng untuk ikut merampungkan proyek ini.

Demikian disampaikan Bambamg Juwono, CEO Pesona Edu dalam Mini Seminar Pembelajaran Digital yang dilaksanakan oleh Grasindo dan Peson Edu, Rabu (17/9/2013), di Bentara Budaya Jakarta.

Hingga saat ini, proses pembuatan buku digital masih terus dilakukan. Rencananya buku digital ini akan dipublikasikan pada Januari 2015. Selain teks, anak-anak juga dirangsang melakukan tugas-tugas yang sifatnya interaktif.

Bambang Juwono, narasumber juga CEO Pesona Edu saat menyampaikan materi tentang buku digital yang akan dikeluarkannya bersama Grasindo dan Intel.


"Lebih dari 60 aplikasi penunjang belajar disediakan dalam buku ini. Selain plan text, buku ini juga dilengkapi dengan lembar interaktif. Anak akan diapresiasi setiap keberhasilan yang dilakukannya saat mengerjakan soal latihan. Rencananya Januari 2015 buku-buku ini siap diedarkan," tutur bapak yang telah menggeluti dunia perangkat lunak pendiidkan sejak 1998.

Dalam kesempatan itu, Bambang mendemonstrasikan bagaimana pemakaian buku digital ini. Menurutnya, buku ini sangat berguna sebab mampu menjelaskan berbagai proses alamiah secara interaktif, soal-soal yang dimuat juga bersifat random yang bisa mengurangi potensi anak menghafal jawaban dan diharapkan lebih paham terhadap isi materi suatu mata pelajaran.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama juga hadir Jamaludin, kepala SMP Laboratorium UPI Kampus Cibiru, memberi testimoni tentang pembelajaran digital. Setelah kurang lebih dua tahun menerapkan sistem ini, Jamaludin merasakan kemajuan pesat pada peserta didiknya. Para murid bisa memperoleh informasi di luar dugaan, bahkan melebihi sang guru.

"Dari dua tahun berjalan, ketika sistem (digital learning) ini diluncurkan, hasilnya luar biasa. Pengathuan anak melebihi guru. Guru terkadang kurang pede (percaya diri) juga karena tertinggal informasi. Secara materi, anak mempeoroleh info di luar dugaan", jelas Jamaludin.






4 komentar:

  1. Suka reportasenya. Sayangnya masih banyak guru yang tidak update pengetahuannya ttg teknologi. Bahkan untuk kurikulum yang berubah2 saja mereka bingung menerapkannya pada anak2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener Mak.
      Kemarin sempet dibahas soal itu. Banyak guru yang nggak siap dengan kurikulum 2013. Kata Anies, yaa seperti inilah pemerintah kita. Menyelesaikan masalah di hulu (kurikulum), bukan di hilir (guru). Harusnya kualitas guru dulu ditingkatkan, baru semua bisa berjalan. Kualitas di sini meliputi kesejahteraan juga rasa bangga jadi seorang guru.

      Hapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)