Jumat, Januari 10, 2014

Sosok Dokter Obgyn Diana Mauria

  No comments    
categories: 
Assalaamu'alaikum..

Jan 2014 ini pernikahan kami  menginjak usia 10 bulan. Hihihiii.. i know itu masih belum seberapa, masih seuprit. Ibarat kata, usianya masih seumur jagung (meski saya juga nggak tau umur jagung itu seberapa bulan. Hwehehhehe...). Tapi yaa namanya masih pengantin baru, masih gampang ngitungnya, i keep counting our marriage's age.

Di bulan ini pula (8 Jan 2014), saya memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan atau istilah keren kedokterannya SpOG, spesialis obstetri dan ginekologi. Ternyata mencari referensi dokter-dokter itu penting lho. Yaa supaya tau, apakah dokternya ramah, mendetail periksanya, dan bisa dihubungi di luar ruang praktik. Berbekal googling, akhirnya pilihan jatuh pada dr. Diana Mauria yang saat ini berpraktik di Brawijaya Women and Children Hospital *sok orang kaya banget periksa di sini :p

Ya siiih mahal banget ongkos pemeriksaannya. Biaya konsultasi dokter Rp 240.000, ditambah dengan biaya pendaftaran (saya pasien baru), USG tanpa print, plus penggunaan alat-alat pendukung USG lainnya, kalau ditotal itu Rp 600.00 ++ *nyengirkuda


Saya berpikir, yaa mungkin ini hanya sesekali saja. Jadi, tidak apalah saya berkunjung ke sana. Selain itu, lokasi menjadi bahan pertimbangan kami juga. You know bulan Januari ini Jakarta pastinya dirundung hujan plus banjir. Jadi daripada jauh-jauh pergi ke dokter kandungan di tempat lain, di situ sajalah yang pasti bagus dan dekat lokasinya.

Ada darah yang tidak wajar, keluar pasca siklus menstruasi saya. Sebenarnya ini bukan darah juga sih, semacam flek coklat tapi lumayan banyak. Lalu, saya bertanya ke beberapa kerabat. Jujur, kalau masih single, ada kemungkinan lebih besar bila saya tidak mengobati segera. Nyahahahaha.. Karena sudah menikah dan belum punya anak, ketidakberesan ini membuat saya snewen. Khawatir ada yang tidak beres di rahim saya. Yeaah, rahim itu sensitif, cyiiiin..

Diantar suami, saya memeriksakan rahim melalui pemeriksaan transvaginal. Agak ndeso sih yak saya karena baru ini periksa-periksa daearh itu. Terus rasanya gimanaaa gitu yah pas di USG. Hahahaha..

Alhamdulillah dari keterangan dokter, rahim saya sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mulut rahim saya juga bersih. Flek cokelat yang timbul ini bukan mens. Jadi, saya harus tetap sholat. Masih kata dokter, ada kemungkinan flek ini keluar akibat pengaruh obat yang saya konsumsi di awal tahun ini. Sakit radang dan panas menyerang saya di penghujung tahun 2013, menjelang awal 2014. Kebetulan lagi, sakit itu terjadi pasca saya selesai menstruasi. Lega rasanya mendengar kabar itu..

Sosok dr. Diana Mauria RA, SpOG
Oh ya saya mau sedikit cerita nih tentang dr. Diana Mauria RA, SpOG.
Saya menemukan dokter ini dari search engine Google "rekomendasi dokter kandungan". Dokter cewek lebih spesifiknya. Random aja sih saya miliihnya. Eh, ada pertimbangan lokasi rumah sakit juga deng. Sudah dapat satu nama, saya masukkan kata kunci dokter tersebut di search engine Google lagi. Buat mastiin aja sih, apa bener pelayanan dokter ini segitu bagusnya? The more recommendations, the better quality of obgyn, rite?

Awal kedatangan saya disambut dengan sapaan dan senyum. Lalu, ditanya keluhan plus minta tips supaya bisa hamil segera. Saya bertanya sambil malu-malu juga sebab usia pernikahan kami masih terlalu dini. Yaa daripada penasaran, udah bayar mahal, ditanyain aja kali ya sekalian. Hohohooo...

Dokter muda dan cantik ini enak banget diajak konsultasinya. Bahasanya mudah dipahami. Secara dia mantan pengasuh rubrik seks (menurut penuturannya), dia pun menjelaskannya dengan gamblang sekali. Kami harus apa, harus bagaimana, dan apa akibatnya, pokoknya enak deh ngejelasinnya. Santai, juga nggak diburu-buru waktu.

Waktu itu saya pertama kali melakukan pemeriksaan transvaginal *Ohh begini yah rasanya USG? - Takjub campur heran sendiri* Setelah dicek nggak ada apa-apa, sang dokter memasukkan tangannya untuk ngecek rahim saya dan juga (mungkin) bejolan-benjolan yang tidak terdeteksi dengan USG.

Dari ngomongin soal seks, si dokter juga nyambung ke mana-mana deh tuh, antara lain life style. Dia bicara tentang raw food alias makanan mentah. Dokter Dian termasuk salah satu orang yang menghindari makanan mentah. Bukan tidak konsumsi sama sekali, tapi meminimalisir. Menurutnya, makanan mentah di Indonesia ini kurang dipercaya sebab air mentahnya aja banyak tercemar, belum lagi kalau tanaman itu menggunakan pestisida. Kalaupun ingin makan lalapan, tidak apa jika berasal dari rumah. Kita tahu sendiri bagaimana prosesnya. Oh ya, jangan lupa untuk mencuci sayuran mentah itu dengan air matang.

Jadi, yang lagi cari-cari rekomendasi dokter kandungan wanita, dr. Dian Mauria bisa jadi dokter kandunganmu *bukanpromosi

Flashback 
Selanjutnya, biarkan saya meng-update kehidupan saya selama ini *berasapenting
Menginjak usia sembilan bulan pernikahan, kami putuskan untuk hidup mandiri. Yup, terpisah dari orangtua, baik orangtua suami ataupun orangtua kandung saya. Orang bilang, yang namanya berumah tangga, memang sebaiknya pisah. Kedua pasangan bebas mau ngapa-ngapain, si isteri belajar mengelola keuangan, si isteri belajar melayani sepenuhnya kebutuhan suami, si suami juga belajar semakin menghargai isteri.

Well, akhirnya sekarang saya tinggal di dekat rumah kakak saya yang ketujuh (FYI, saya punya 9 saudara kandung, lho! :D). Okeh, yaa saya masih belajar banyak soal kehidupan rumah tangga dan akan terus belajar seumur hidup saya sepertinya. Di tengah aktivitas saya bekerja dan belum bisa masak, kakak sayalah yang mengajarkan segala hal.

Saya akan bertanya kepadanya, bagaimana cara memasak nasi, apa resep masak sayur asem, tempe balado, opor ayam, hingga lokasi belanja jajan pasar juga kebutuhan pokok lainnya yang ada di sekitar rumah. Sebenarnya terkadang saya merasa hanya pindah tempat ngerepotin orang.. dari ngerepotin orangtua, lalu ke kakak perempuan saya. Pokoknya, judulnya saat ini many thanks to my lovely sista..

Dalam waktu dekat ini, kami berencana mau selametan rumah. Selametan kecil-kecilan aja, mengundang kedua belah pihak keluarga besar. Selametan, berdoa bersama biar di rumah yang kami huni ini membawa rejeki buat kami, bisa segera punya anak, sehat selalu, dan yang penting selalu diberi keberkahann rumah tangga kami. Aamiin :)




0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)