Senin, November 19, 2012

Tinggalkan Pospak, Beralihlah ke Popok Kain Modern!

Stan MPK di Kompasianival 2012


Jaman sekarang emak-emak udah bukan waktunya lagi cuman ngurusin dapur, dapur, dapur. Berkat adanya internet, emak-emak dari manapun bisa berkumpul meski tanpa tatap muka. Nah, tempat kumpulnya di mana lagi kalau bukan dunia maya. Tapi, dari maya bisa menjadi nyata, lho!

Berawal dari obrolan segelintir emak-emak tentang kekhawatiran penggunaan popok sekali pakai (pospak), emak-emak ini akhirnya membuat sebuah milis yang kini sudah menjadi sebuah komunitas dan bergerak di bidang dunia perpopokan! Hihihiii, rada nggak enak yah didengernya, dunia perpopokan. Eits, tapi jangan salah lho. Pergerakan mereka oke punya. Ikutin cerita saya bersama pengelola MPK saat bertemu di acara Kompasianival, Sabtu (17/11/2012), di Skenoo Hall, Gandaria City, Jakarta.

Adalah Sitha Puspita, dedengkot Milis Popok Kain (MPK). Awalnya, Sitha bersama 10-20 teman-temannya membuka obrolan tentang kekhawatiran mereka atas dampak penggunaan pospak. Nah, pernah nggak terbayang dalam benak Anda atas bahaya ini? Mulai dari gatal-gatal, kemerahan, hingga menimbulkan ruam pada kulit bayi. Belum lagi sampah yang dihasilkan dari pembuangan popok ini. Yaa.. secara pospak ini susah didaur ulang. Artinya, kita ikut menyumbang sampah yang susah didaur ulang. Hal ini belum lagi ditambah dengan jumlah pengeluaran rumah tangga yang terus bertambah untuk pengeluaran popok. Pheeeww --"

Atas dasar itu, akhirnya Sitha membentuk milis yang diberi nama milis popok kain (MPK) per 26 juli 2009. Dari 10-20 orang doang anggotanya, sekarang sudah ribuan ibu-ibu yang menjadi anggota MPK. Inne Utomo, salah satu anggota MPK yang telah bergabung sejak 20120 mengatakan, "Sekarang anggota mereka sudah ribuan dan tersebar di berbagai kota di Indonesia. Umumnya memang masih kota-kota besar, seperti Solo, Jogja, Bandung, Batam, hingga Makassar. Mereka bergerak sendiri-sendiri saja secara sukarela, tanpa ada komando."

Hingga saat ini, gerakan utama MPK adalah sosialisasi kepada masyarakat. Kitty Wibisono, anggota MPK lainnya yang hadir pada saat Kompasianival bercerita, "Kami sedikit kesulitan untuk mengubah pola pikir masyarakat terkait penggunaan popok kain. Mereka berpikiran bahwa popok ini mahal. Jadi, ngapain juga beli yang mahal dapet satu, sedangkan dengan harga yang sama, pospak bisa dapat banyak."

Masih menurut penjelasan Kitty, memang di awal pemakaian agak mahal. Untuk satu buah popok kain harganya berkisar 50-100 ribu. Di pasaran harganya berkisar 70-80 ribu. Namun, mengingat penggunaan dalam jangka panjang, tentu ini akan lebih murah. Apalagi popok kain ini bisa berkali-kali dipakai. kotor-cuci-kering-pake. Plus bisa juga diturunkan ke anak selanjutnya.

Hal senada diungkapkan oleh Inne. "Pokoknya kalau udah ngomongin popok kain sama saja ngomongin  financial planner, deh. Udah gitu, pemakaian deterjen juga irit, cuman seperempat takaran deterjen. Saya berasa banget setelah beralih ke popok kain. Beda banget pengeluarannya."

Tidak dipungkiri, ada beberapa bayi yang mengalami iritasi setelah penggunaan popok kain. Kalau sudah begini, biasanya, mereka menanyakan, bagaimana pemakaian popok kainnya, apakah benar atau tidak. Iritasi ini bisa muncul bila sang ibu tidak melakukan pre washing popok kain. "Jadi, sebelum dipakaikan ke anak, popok kain ini harus dicuci tiga kali supaya kuman-kumannya mati dan daya penyerapan popok lebih maksimal lagi," kata Inne.

Lucu-lucu bentuk popok kain ^^ (sumber gambar: tamanbuahhati.com)


Selain itu, mereka juga akan menyakan, berapa jam pemakaian popok kainnya. Perlu diketahui, normalnya popok kain dapat digunakan selama 3-4 jam. Khusus untuk bayi baru lahri (newborn), penggunaan 1-2 jam saja mengingat kulit mereka yang masuh sangat halus dan sensitif. Jadi, tidak usah menunggu penuh popoknya. Langsung cuci, lalu ganti dengan popok yang baru.

Nah, saat saya tanya tentang keawetan popok kain, tentunya perawatan popok kain ini sama dengan merawat pakaian biasa. Di milis, mereka juga berbagi tips, termasuk tips keawetan popok kain. "Awet tidaknya popok kain memang sangat bergantung pada perawatan. Air di rumah juga sangat mempengaruhi. Kan ada yang air rumahnya kotor, kuning, atau berbau mineral tanah gitu. nah, ini yang gampang merusak popok kain. Biasanya kita kasih tips-tips penghilang noda di popok kain bayi," jelas Inne.

"Misalnyalagi popoknya bau pesing. Nah, caranya itu dicuci pakai jeruk nipis atau menggunakan baking soda. nanti hilang deh bau pesingnya," lanjut Inne.

Selain soal produk, di milis, mereka juga biasa sharing hal-hal lainnya yang berhubungan dengan popok. "Kita juga sharing pola-pola. Paling berbagi link lucu, biar bisa dipraktekkin. Ya, namanya milis, jadi semua bisa diobrolin", terang Kitty.

Tidak hanya sosialisasi melalui transfer ilmu, MPK juga pernah mengadakan bakti sosial ke panti asuhan bayi di Cipayang sekitar dua tahun lalu. Dalam momen ini, mereka membagikan popok bayi secara cuma-cuma. "Intinya, kami menyebar virus penggunaan popok kain. Karena penggunaanya yang hemat biaya, ramah lingkungan, hindari bayi dari bahaya kimiawi, dan tidak lupa melupakan bentuknya yang imut-imut," tutup Inne.

2 komentar:

  1. Hai, terima kasih utk tulisannya yang menarik ini... :D Salam kenal ya...

    BalasHapus
  2. Haii..
    Aaaaa ini Mba Sitha, founder MPK yaaa? Hwaaahh.. blog aku dikunjungi olehmu, mbaaak.

    Salam kenal juga yaah :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar dengan sopan :)